Tes Kesehatan

Saya akan lanjutkan cerita saya tentang tes kesehatan kemarin yang menjadi babak pertama pencarian kitab suci ke barat ini. Eh. Setelah kamis saya mulai tes bebas TBC, hari Jumat saya mesti datang lagi ke Sardjito untuk melanjutkannya. Jumat itu saya datang agak siang, sekitar pukul 9.30. Saya langsung menyerahkan sampel dahak yang sudah saya usahakan paginya ke laboratorium. Lalu saya pindah ke bagian radiologi untuk ambil hasil rontgen paru-paru. Keduanya ada di lantai satu dan berdekatan. Selanjutnya saya ke klinik paru untuk disuntik PPD. Jadi, mantri menyuntikkan cairan di lengan bawah kanan sehingga kulit saya menggelembung sebesar kancing kemeja. Mantri lalu menandai dengan pulpen dan tidak boleh digosok. Ini mesti didiamkan sampai Senin untuk melihat hasilnya.
Sebelum naik ke lantai 3 untuk tes bebas narkoba, saya lanjutkan dulu mencari surat keterangan sehat fisik yang sama-sama berada di lantai dasar. Di sini prosesnya lumayan cepat. Daftar ke bagian general check up, ditimbang dan diukur tensinya. Setelah itu bayar di kasir yang satu lokasi dan menunggu dokter untuk diperiksa, selain ditanya-tanya. Setelah itu kembali lagi ke bagian perawat yang tadi mengukur tensi sambil bawa surat keterangan dokter untuk dicap. Selesai. Waktunya kurang lebih 20menit. Yang lama menunggu dokternya karena sepertinya tidak ada dokter yang siap sedia di klinik GCU, jadi mesti dipanggilkan dulu.
Saya ambil napas dulu sebelum melanjutkan tes bebas narkoba. Lima menit kemudian saya naik ke lantai 3, ke bagian kesehatan jiwa. Tentu saja pertama-tama saya daftar dulu. Lalu ke klinik yang dituju. Di sana saya disuruh mengisi formulir dan beberapa pertanyaan terkait persinggungan dengan narkoba. Kalau dipikir-pikir pertanyaannya agak aneh. Kalau saya mau cari surat bebas narkoba ya pasti isi yang baik-baik dong. Tapi ya begitulah. Isi data itu sekitar 5 menit. Lalu saya serahkan lagi ke administrasi dan si ibu meminta saya menunggu sementara dia memanggil dokter. Lalu saya berhadapan dengan dokter di salah satu ruang periksa yang ada. Saya ditanya-tanya lagi soal keluarga, tentang pekerjaan, tentang siapa saya, pandangan-pandangan terhadap situasi tertentu, dan sebagainya. Sebentar, semacam basa-basi. Lalu mas dokter menulis rujukan ke lab untuk tes urin. Saya pun turun lagi ke lantai dasar.
Sampai di lab, saya mesti daftar dan bayar lagi. Di Sardjito ini, tiap ganti tindakan kita mesti daftar, bayar, antre, baru dilakukan tindakan. Begitu terus. Tak lama saya dipanggil untuk tes urin dan menunggu hasilnya sekitar sejam kemudian. Karena Jumat, hasil lab baru bisa diambil lepas Jumatan. Ya sudah, saya makan dulu ke kantin FKU. Nggak mau sendirian, saya kontak temen yang kerja di FKU biar nggak aneh makan sendirian di kantin orang. Hehe.
Setelah kenyang dan istirahat Jumat selesai, saya balik ke laboratorium, lewat jembatan penghubung FKU dan Sardjito. Nyobain ceritanya. Ternyata ya gitu saja (Lha emang mau gimana? Nemu labirin Harry Potter?). Ambil hasil tes urin tidak lama karena hasilnya memang sudah jadi. Setelah itu saya naik lagi ke lantai 3 untuk menyerahkan hasil tes urin dan mendapatkan surat keterangan bebas narkoba. Sudah selesai.
Eh tapi saya mesti baik lagi hari Senin untuk mendapat surat keterangan bebas TBC. Singkat cerita, Senin saya datang lagi dengan membawa hasil rontgen. Sebelumnya saya ambil hasil tes lab dahak dan ternyata di laboratorium sudah berjubel manusia. Woah.. ternyata banyak sekali orang sakit. Setelah menunggu sekitar 30 menit dan hasil lab sudah di tangan, saya lanjut ke klinik paru di lantai 2. Di sana saya ketemu dokter. Dia mengukur sebaran cairan yang sudah disuntikkan hari Jumat lalu dan akhirnya saya dinyatakan bebas TBC. Hurray. Sebelum pulang, saya minta cap dulu di lantai satu dan legalisasi surat-surat tersebut.
Begitu perjalanan saya mencari surat-surat kesehatan dan dompet saya langsung kempes. Huehue.
Kalau teman-teman ingin melakukan tes kesehatan yang sama, yaitu tes bebas narkoba, bebas TBC, dan surat keterangan sehat, saya sarankan mulai hari Selasa atau Kamis seperti saya.

Oya, saya dapat info dari teman. Kalau mau tes kesehatan untuk LPDP mending ke RSUD. Teman saya ke RSUD Sleman hanya butuh satu hari karena tidak perlu tes dahak. Biayanya pun lebih murah, sekitar separuh dari RS Sardjito. Wah, semoga saya tak perlu tes kesehatan lagi. Amin.

Babak Pertama

Postingan blog pertama ini akan saya isi dengan cerita tentang proses mencari beasiswa untuk S2. Kali ini saya akan mencoba kemampuan lewat beasiswa LPDP. Iya, beasiswa yang massal ini. Hehe.
Ketertarikan terhadap beasiswa ini sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu. Hanya saja tahun lalu masih malas mencoba. Beberapa periode terakhir ini,  beberapa teman lolos dan mendapatkan beasiswa ini. Dua orang teman sudah berangkat ke Australia, seorang ke Jerman, seorang sedang mencari LoA, seorang lagi sedang deg-degan menanti pengumuman sore ini. Itulah yang kemudian memacuku untuk berusaha juga lewat sini. Kebetulan juga Nindy juga sedang niat-niatnya mencoba. Jadi ada teman untuk berusaha bersama.
Awal bulan lalu, saya dan Nindy mulai serius menyiapkan. Pertama kami lis dulu syarat apa saja yang mesti kami siapkan. Beberapa syarat terasa mudah, seperti ijazah, transkrip, dan sertifikat TOEFL yang memang sudah kami punya. Lalu kami buat jadwal untuk langkah selanjutnya, yaitu mencari dan mempelajari universitas tujuan, tes kesehatan yang macam-macam itu, membuat surat SKCK, surat rekomendasi, membuat esai, dan mulai mendaftar.
Rabu kemarin kami janjian untuk mencari universitas. Nindy sebenarnya sudah menentukan mau ambil di UGM saja, tapi saya sedang membujuknya untuk mempertimbangkan ITB atau UI biar ganti suasana. Hehe. Sayangnya saya malah janjian hore-hore sama teman-teman. Malamnya, dia malah sakit mata.
Langkah kedua itu kami lewati dulu sampai hari ini kami melanjutkan langkah ketiga, yaitu mencari surat bebas TBC, surat bebas narkoba, dan surat keterangan sehat. Untuk tujuan dalam negeri, surat bebas TBC tidak diperlukan dan lumayan menghemat biaya. Hehehe.
Saya dan Nindy mulai rencana kami hari ini: dia ke dokter gigi, saya tes TBC. Ternyata dia malah mesti ke Puskesmas dulu karena matanya bengkak gara-gara makan kerang kemarin. Alhasil kami ke Puskesmas terlebih dahulu sebentar. Selanjutnya mengantar Nindy ke RSGM untuk urus giginya yang bolong itu. Saya tinggal dia di RSGM dan saya lanjut ke RS Sardjito.  Oya, untuk syarat kesehatan ini memang hanya bisa dilakukan di RS Pemerintah. Karena ya g terdekat adalah RS Sardjito, pergilah kami ke sini.
Saya ambil tes TBC dulu, dengan asumsi tes narkoba dan tes kesehatan bisa bareng Nindy sembari menunggunya dari RSGM. Pertama saya daftar di lantai 2 setelah bertanya ke sana kemari. Setelah itu, saya diperiksa tensi oleh perawat, baru diperiksa dokter. Cuma suruh ambil dan keluarkan napas sambil dia dengarkan dari dada dan punggung. Lalu saya mesti ke radiologi untuk rontgen dan menjalani antrean lagi. Setelahnya, pemeriksaan pindah ke laboratorium untuk mengambil sample dahak. Nah, ini sangat sulit menurutku; mesti batuk-batuk meski harusnya nggak batuk, sampai mau muntah. Akhirnya berhasil juga walau sebenarnya nggak tahu apa tadi berhasil keluarkan dahak. Hehe.
Ternyata proses belum selesai. Sampel dahak harus diambil lagi besok pagi pukul 05.00 dan 07.00. Duh. Jadi, besok mesti datang lagi ke RS ini untuk serahkan sampel dahak pagi, ambil hasil rontgen, dan suntik PPD. Senin pun datang lagi untuk mengambil hasil. Tes lainnya sudah tidak terkejar. Waktunya sudah terlalu siang dan uangnya sudah habis. Hehe.
Oya, untuk biaya tes TBC ini, sementara, pendaftaran 18.000, tindakan dokter 65.000, PPD Test 89.000, rontgen 152.000, lab 77.000. Berapa tuh? Hehehe. Semoga besok dan Senin tidak perlu bayar lagi. Amin. Ini baru tes TBC lho, belum tes narkoba dan tes kesehatan fisik. Huhu. Sementara saya tes TBC, Nindy tes narkoba dengan biaya sekitar 2/3-nya. Sepertinya memang mesti 2-3 kali datang untuk tes kesehatan ini. Jadi kalau manteman kepikiran daftar juga, tes kesehatan ini mesti didahulukan. Itu juga yang disarankan Widas ketika saya tanya-tanya tentang pendaftaran beasiswanya.
Segini dulu ya cerita babak pertama usaha saya daftar beasiswa LPDP. ☺