Seleksi Substansi LPDP

Setelah saya cerita tentang proses pendaftaran LPDP dan lolos seleksi administrasi, postingan ini akan saya ceritakan tentang seleksi substansi LPDP. Seperti yang sudah diceritakan di banyak blog lain, seleksi substansi yang saya hadapi untuk LPDP ini terdiri dari 4 tahap, yaitu (1) verifikasi dokumen, (2) LGD atau leaderless group discussion, (3) essay on the spot, dan (4) wawancara.

Saya dapat jadwal 2 hari untuk tes substansi ini. Kamis, 19 Mei 2016, adalah jadwal saya untuk verifikasi dokumen, Essay on the Spot, dan LGD. Sementara Jumat adalah jadwal saya wawancara. Proses verifikasi dokumen berjalan lancar meski dokumen TOEFL saya hanya ada dua, sementara yang diminta ada tiga, seperti yang saya ceritakan di sini. Setelah menunggu sebentar, saya dan kelompok dipanggil untuk tes menulis esai, tentu dalam bahasa Inggris. Panitia memberikan 2 topik untuk dipilih salah satu. Topik biasanya terkait dengan isu-isu aktual.

Selanjutnya, peserta menjalani LGD. Di kelompok saya, sebelumnya sudah ada komunikasi lewat FB. Ada orang yang menghubungi lewat pesan FB. Hanya saja, saya tidak ikut karena entah kenapa pesan tersebut baru masuk setelah semua rangkaian tes berakhir. Jadi saya tidak mengikuti dinamika dalam kelompok saya sebelum tes substansi berlangsung. LGD di kelompok saya membicarakan tentang hukuman bagi pemerkosa. Tema dalam LGD tersebut sudah ditentukan oleh panitia. Ada 2 orang psikolog yang mengamati kami sewaktu LGD berangsung.

Hari selanjutnya, saya datang lagi ke Gedung Kementerian Keuangan, di mana semua tes substansi berlangsung, untuk wawancara. Wawancara saya berlangsung sangat singkat, cuma 15 menit. Saya diminta untuk memperkenalkan diri dan alasan kenapa saya harus dapat beasiswa LPDP ini dengan bahasa Inggris. Pewawancara saya ada 3 orang, 1 orang dosen UIN Yogyakarta, 1 orang dosen Undip, dan seorang lagi dosen Unhas. Setelah saya menjelaskan siapa saya dan mengapa LPDP layak memberi saya beasiswa, saya langsung ditawari untuk mengambil kuliah di Indonesia saja. Menurut pewawancara, LPDP hanya memberikan kuota 35% untuk beasiswa ke luar negeri dan diprioritaskan untuk dosen. Saya menolak. Selanjutnya, ibu pewawancara dari Undip menanyakan tentang Komisi Penyiaran Indonesia dan bapak dari Unhas menanyakan tentang RRI.

Setelah saya bersalaman untuk mengakhiri sesi wawancara, saya langsung merasa bahwa saya tidak dapat beasiswa ini meskipun ibu pewawancara dari Undip cukup tertarik dengan studi saya. Dan benar, saat pengumuman, saya memang tidak lolos. Karena saya adalah orang yang selalu bersiap untuk kemungkinan terburuk, saya terima saja ketidaklolosan tersebut. Saya akan coba lagi dan menyiapkan dengan lebih baik tahun depan.