BBKU 3.0

Bulan Blogging KBM UGM ini luar biasa, bisa memaksa saya ngisi blog 30 hari penuh. Ya.. meski isinya sampah semua sih. Etapi katanya di KBM itu sampah pun bisa disejajarkan dengan high culture kan yaa..

Saya mau ngucapin terima kasih buat penggagas  gerakan yang membuat saya mengabaikan tugas kuliah dan lebih milih mengisi blog ini dengan tulisan abal-abal.

Juga kepada admin yang saya tebak paling banyak membaca tulisan saya dibanding peserta BBKU lainnya. Besok kutraktir soto kantin wes. Admin Wa(de)fiq yang mirip Rhoma Irama ini keren sekali. Baca saja tulisan-tulisan di blognya, sungguh menunjukkan intelektualitasnya sekaligus kekurangajarannya mengatai orang. Saya dibilang kampret dan seperti kura-kura. Jadi maksudmu apa, Min? Kampret apa kura-kura? Itu dua hewan berbeda loh. Stephanie disuruh jadi komentator sepakbola radio, Angel dibilang suka ngutang pulsa, Hair dibilang mirip Drogba (ini emang sih). Sakpenake. Tapi dia keren, bisa menemukan filosofi di balik banyak hal, seperti filosofi astor dan filosofi skripsi dan tesis. Entahlah apa itu menunjukkan intelektualitasnya atau kekurangkerjaannya. Astor tinggal dimakan aja malah dicari filosofinya. Weird. Intelektualitasnya juga bisa dilihat dari video di blog Levi. Sudah ah, seneng pula dia dibahas. Wekekkeke. 

Lalu terima kasih juga buat peserta BBKU yang keren-keren, bikin saya rajin membaca tiap hari. Baca blog, bukan baca buku -_-”

Kalian semua luar biasa… *macak Ariel*

 

Advertisements

Random

Melakukan kegiatan atau perjalanan acak selalu menyenangkan. Dulu saya suka sekali melakukan kerandoman itu. Sekarang sudah jarang sih. Duh. Hidupku.

Bagi orang lain, mungkin yang saya lakukan itu biasa saja, tapi bagiku itu menyenangkan, seperti naik bus 515. Ini daftar hal-hal random yang pernah kulakukan.

1. Nongkrong di taman tengah RS Panti Rapih.

2. Bertanya pada polisi di Malioboro tentang bagaimana cara pergi ke Jakal, padahal kosku di Jakal.

3. Bersepeda menyusuri Selokan Mataram. Ke timur sampai habis di bawah Candi Boko. Ke barat belum habis, baru sampai utara Pasar Godean.

4. Nongkrong di Masjid Agung Alun-alun Utara.

5. Tiga puluh menit menjelang buka puasa pergi ke Pantai Depok, makan, pulang lagi.

6. Motoran berdua ke Kaliurang, minum teh poci, lanjut ke Solo, makan tengkleng, pulang.

7. Bertanya pada petugas stasiun, apakah kereta api masih menggunakan batu bara.

8. Naik ke gedung perpus lama UGM, makan pizza dan minum jamu kunir asem.

9. Ketawa sendiri di jalan sampai ada mas-mas komentar, “ih, mbake ngguyu dewe.”

10. Membohongi teman yang skripsinya nggak selesai-selesai dengan mengiriminya sms atas nama dosen.

Itu sebagian yang pernah saya lakukan. Ada yang saya lakukan sendiri, ada pula yang saya lakukan bersama teman. Namun, ada beberapa hal yang sampai sekarang belum kesampaian seperti membayari orang acak di bus, menyelesaikan susur selokan ke barat, dan bilang “ampun pak” ke polisi bersenjata yang sedang menjaga pengisian ulang ATM.

Apa hal paling random yang pernah kamu lakukan?

Status (lagi)

Kalau di postingan lalu saya sudah bahas status cewek-cewek KBM 2016, kali ini saya akan bahas status cowok-cowok KBM 2016. Sebagai seorang yang bercita-cita menjadi detektif partikelir, saya melakukan beberapa penyelidikan untuk tulisan ini. Secara umum, status cowok-cowok KBM 2016 berkebalikan dengan status ceweknya. Mereka banyak yang sudah punya pasangan, resmi maupun belum resmi. Mari kita bahas satu per satu.

Alfian

Sis Fian ini suka tebar pesona di mana-mana. Di awal semester lalu dia suka panggil Uti dengan sebutan Umi, karena katanya Uti mirip Umi Pipik. Dia merasa seperti UJ barangkali, padahal dia jelas-jelas mirip Komo. Meski suka tebar tanda, sis Fian ini sebenarnya sudah ada gandengan di kampung halaman. Tampaknya sis Fian ini suka perempuan yang lebih dewasa dari dia.

Andryan

Musisi noise ini meski suka goda-goda dikit, sebenarnya adalah tipe setia. Memacari adik kelas SMA sejak si adik kuliah di Jogja hingga sekarang menjadi tandanya. Kisah pertemuannya juga epik: yaitu saat ujian. Kayak FTV yak. Konon, kalau mau apel, Andryan tinggal engklek dari rumahnya.

Baim

Abdur Rahim atau Baim adalah tipe orang serius. Menurut gosip, dia nggak mau cuma pacaran doang. Kalau menjalin hubungan ya serius, langsung saja lamar.

Fahru

Cowok asal Mataram ini diam-diam suka menghabiskan waktu untuk teleponan dengan pacar yang nun jauh di sana. Postingannya tentang kangen kampung halamannya di Lombok kapan itu mungkin hanya kamuflase atas kerinduannya pada adinda.

Fauzan

Ojan sejak awal sudah bilang kalau dia punya pacar di Jakarta. Dia juga nggak suka main goda-godaan seperti sis Fian atau Andryan. Ojan memang tipe serius, seperti tercermin di blognya. Oya, dia sungguh cowok kekinian karena menemukan tambatan hatinya karena kemajuan teknologi komunikasi.

Jaka

Saya belum sempat bertanya ke yang bersangkutan. Tadi tempat duduknya agak jauh dari jangkauan saya untuk bisik-bisik menanyakan soal pacar. Tapi seorang informan mengatakan kalau Jaka ini hampir sama dengan Baim. Maunya langsung saja. Sip Bung, konon cewek biasanya cuma butuh kepastian.

Ronggo

Sejak saya follow IG-nya, sudah ada foto dia sama cewek. Tapi akhir-akhir ini dia jarang unggah foto berdua lagi. Kalau dikasih nilai, hubungan Ronggo layak dapat nilai C karena ceweknya beda fakultas tapi masih satu universitas. Sekarang keduanya punya kesamaan, yaitu sama-sama mahasiswa Pak Heru.

Saffa

Kang Saffa juga belum sempat saya tanyai karena keburu ngacir sejak kuliah pertama usai. Tapi melihat penampakannya dan cerita-cerita yang pernah terselip di antara obrolan kantin, Kang Saffa ini sedang tidak mencari pasangan. Padahal kalau dia mau, dia tinggal tunjuk saja.

Wempi

Nah, soal status mas Wempi ini sudah tidak perlu dijelaskan lah ya. Wes payu, kalau kata orang Jawa.
Sudah ya. Mohon maaf kalau ada salah tuduhan. Mohon maaf juga kalau sudah membuka status teman-teman di sini padahal sebenarnya pengen diumpetin saja.

Request Kanjeng Dimas

Dalam postingan saya tentang kunduran truk di awal bulan lalu, Kanjeng Dimas Probo Pamungkas pesan bahasa Indonesia ketelisut atau dalam bahasa Jawa saya ketlingsut. Artinya sama saja, barang tiba-tiba hilang, namun yakin masih ada di tempat itu. Bahasa Indonesia yang tepat untuk ketelisut bagi saya adalah “terselip”, dari kata dasar selip. Berikut saya kutipkan arti terselip dari KBBI yang kamus besar, bukan kita belajar.

Lunas ya. Kalau tidak puas, besok kita bahas ya. Saya ngerjain tugas Pak Heru dulu.

Salam

Dedek-dedek Gemes

Selain mas-mas ganteng seperti Eddie Redmayne dan Leonardo DiCaprio atau pak-pak yahud semacam Hugh Jackman dan George Clooney, saya juga menggemari dedek-dedek gemes. Saya memang suka fleksibel soal selera. Seperti soal makanan, saya suka yang haram maupun nonharam, makanan kaki lima sampai yang bikin seminggu puasa setelahnya. Kali ini saya ingin secara khusus membahas dedek-dedek gemes. Tidak banyak memang, tapi berikut daftarnya.

1. Jacob Tremblay

Sumber foto: IG @jacobtremblay

Saya pertama mengenalnya dari film Room. Coba tengok aktingnya sebagai Jack yang keren. Pantas jika ia memenangi Critics’ Choice Movie Award sebagai Best Young Performer. Selain dari film, coba lihat video-videonya di Youtube saat ia menjadi bintang tamu di berbagai acara. Jacob bisa dengan mudah becanda dengan host yang semuanya orang tua. Iiihhhh lucu bangettt.

2. Song Triplets

Sumber gambar lupa ngapture dari mana.

Jelas saja Song Triplets ini adalah idola banyak orang yang suka mengikuti acara The Return of Superman. Bocah kembar tiga dari Korea ini pada masa kecilnya seperti sekumpulan cilok. Sekarang Daehan, Minguk, dan Manse sudah kurus-kurus, tapi tetap saja nggemessin. Sayangnya mereka sudah keluar dari reality show yang membuat mereka terkenal.

3. Freddie Highmore

Sekarang dia sudah gede. Saya suka saat dia main sebagai anak kecil dengan bakat musik luar biasa di film August Rush, Charlie di film Charlie and The Chocolate Factory bersama Johny Depp, dan anak kembar di Spiderwick. Aktingnya keren menurut saya. Dia tampak seperti anak baik-baik tapi lucu. Gosipnya dia akan main menjadi Spiderman. Ini fotonya.

Eh, bukan. Itu bapaknya August Rush. Ini August Rush.

Sumber gambar: imdb.com

Pak Amandus

Belajar di sekolah negeri berarti punya keistimewaan untuk memiliki sebuah ruang belajar agama sendiri. Saat SMP, saya dan kawan-kawan punya ruang di dekat pintu masuk yang luasnya bisa diisi delapan meja untuk dua orang, sebuah lemari buku, dan satu meja guru. Di SMA, ruangan kami lebih luas. Meja ditata dalam bentuk U. Meja guru ada di tengah. Dalam ruangan di samping kantor BK itulah, kami belajar bersama Pak Amandus.

Pada hari pertama kelas agama, Pak Amandus mengenalkan dirinya. Namanya Amandus Dwiono. Amandus adalah singkatan dari Aman Menuju Kudus, begitu klaimnya. Pak Amandus bertubuh kurus, berkacamata tebal yang sudah tidak cocok dengan minusnya, rambutnya belah pinggir dan mulai menipis di depan.

Saya dan kawan-kawan senang jika waktu pelajaran agama tiba. Kelas kami yang jauh dari ruang agama memberi waktu untuk telat, pun saat harus kembali ke kelas. Kami bisa mampir jajan sebelum masuk kelas selanjutnya. Jika ditanya darimana kok telat, kami bisa menjawab dari kelas agama. Selesai perkara.

Saya sendiri senang dengan pelajaran agama ala Pak Amandus. Saya lupa berapa kali dalam setahun kami membuka Kitab Suci. Rasanya jarang sekali. Tes agama dengan kertas soal dan jawaban warna pink atau kuning untuk membedakan dengan agama lain tidak pernah sulit. Bagaimana tidak, soal-soal Pak Amandus sama dari tahun ke tahun. Sepertinya Pak Amandus hanya punya empat variasi soal untuk tiap tingkat. Selain itu, jawaban soalnya selalu berpola. Kalau tidak AAABBBCCC ya ABCDEABCDE atau ABCDEDCBA. Kalau jawabanmu tidak memiliki pola, kamu wajib curiga dengan jawabanmu. Soal tentang ayat Kitab Suci tak pernah lebih dari 10% dari total soal, daaannn konon jawabannya selalu A. Maka dari itu, nilai tes agama kami tak pernah kurang dari 8. Itu juga berarti nilai rapot kami adalah 9. Mudah sekali tes ala Pak Amandus.

Suatu pagi di pelajaran agama kami, Pak Amandus baru datang dengan motor Honda CB-nya, dengan helm miring. Kami sudah siap di meja U. Pak Amandus masuk dan mendekati salah satu dari kami, bertanya ada masalah apa. Katanya, cincin di jari manisnya berputar saat melewatinya. Itu tanda dia yang ditanya sedang punya masalah. Tapi kami tak percaya. Cincinnya berputar karena memang ia putar-putar.

Dalam sebuah retret tahunan, Agung diminta untuk memimpin doa sebelum makan. Agung berdoa panjang sekali. Ia mendoakan kami semua yang akan menyantap makanan, mendoakan ibu-ibu yang memasak di dapur, para petani yang menanam padi, sambil mensyukuri anugerah Tuhan. Selepas doanya, Pak Amandus menginterupsi sebelum kami makan. Katanya, “Kalau doa sebelum makan tidak usah panjang-panjang. Kasihan temannya yang sudah lapar, doanya tidak khusyuk karena sudah membayangkan ayam goreng dan sambal terasi di depan. Kalau mau doakan petani, nanti saja kamu doa khusus untuk mereka.” Kami semua tertawa. Sampai sekarang saya nggak bisa doa lama.

Banyak sekali cerita tentang Pak Amandus yang bagiku lucu. Hal-hal di luar pelajaran itu yang nyangkut di kepala, isi pelajarannya tidak. Tapi, ada pelajaran dari Pak Amandus yang saya ingat sampai sekarang, yaitu supaya kami tak pernah lupa mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang telah membantu kita, termasuk guru yang sedang membagikan kertas soal ujian. Saya yakin Pak Amandus nggak masalah saya tidak tahu ada berapa surat Paulus dalam Alkitab, tapi saya mengucapkan permisi saat saya melewati bapak-bapak yang sedang mengepel lantai di mall.

Sehat selalu, Pak Amandus.

Tipe LDR Berdasarkan Tingkat Kesulitan

LDR seringkali menjadi problem dalam sebuah hubungan persayangan. Ia menjadi momok bagi banyak pasangan. Karenanya, ia bahkan dibahas dalam berbagai media. Dalam perjalanan Jakarta-Bogor bersama Niam, kami membicarakan tentang LDR. Ada tingkatan-tingkatan kesulitan dalam LDR. Berikut tingkatannya.

1. LDR (Long Distance Relationship)

Tipe LDR ini adalah tipe yang paling sepele. Bagaimana tidak, hubungan jarak jauh di tengah globalisasi dan perkembangan teknologi komunikasi sekarang menjadi tidak terlalu bermasalah. Kalau ingin bicara tinggal telepon. Kalau suara kurang, ada video call. Kalau masih kurang juga, butuh sentuhan, tinggal klik Trav*lo*a. Tiket pesawat sekarang murah. Kalau judul bukunya Yasraf sih disebut dunia yang dilipat. *baca  judulnya doang, isinya nggak* Tapi kalau LDR-nya antarnegara ya mayan sih.

2. LDR (Love Different Race)

Tipe LDR kedua ini sedikit lebih berat bagi ras-ras tertentu. Bagaimanapun, masyarakat Indonesia ini masih banyak yang stereotip. Mungkin kamu pernah dinasihati orang tuamu untuk tidak menjalin hubungan dengan orang dari suku tertentu karena dianggap keras lah, lembek lah, pelit lah, dan seterusnya. Tapi seiring berjalannya waktu, kalau kamu bisa ngenalin pasangan ke orang tua dengan baik, ini jadi LDR yang mudah.

3. LDR (Love Different Religion)

Tipe LDR ini lebih sulit lagi. Banyak hubungan yang kandas karena beda agama. Ya gimana ya.. agama kan prinsip ya untuk sebagian besar orang Indonesia. LDR ini lebih sulit lagi karena institusi agama dan negara ikut campur dengan seringkali tidak menerima pernikahan beda agama.

4. LDR (Love Different Reaction)

Tipe LDR yang ini adalah yang paling sulit. Bagaimana tidak, kalau kamu mau sementara dia tidak mau. Tiga tipe LDR di atas jadi nggak relevan kan?
Ada LDR yang lebih sulit lagi nggak?