Cuma Manjang-manjangin


Demo 4 November 2016 kemarin ramai sekali. Linimasa Facebook saya tak kalah riuhnya. Semua merasa perlu ikut urun rembug–termasuk saya. Beberapa orang menganggap demo itu perlu dan harus dilaksanakan sembari menyebutkan alasan-alasannya. Lainnya menolak mentah-mentah dan sebagian sampai mencurigai para pendemo sebagai kelompok intoleran yang ditunggangi oleh orang-orang yang ingin membuat Indonesia seperti Suriah. Analisisnya macam-macam, berdasar maupun asal. Mereka yang ada di Jakarta ikut memberi laporan pandangan mata, yang tak melihat langsung ikut-ikut komentar saja. Gambar-gambar dan video aksi tersebut banyak sekali yang tersebar di linimasa. Komentar dan perdebatan lalu melebar kemana-mana.

Perdebatan kemudian terpolarisasi ke dalam dua kelompok besar, pendukung demo dan antidemo. Sisanya remah-remah. Pendukung demo membagi gambar pendemo yang sedang bersih-bersih. Yang tidak mendukung demo membagi gambar sampah yang berserakan pascademo. Pendukung demo membagi video demo yang tertib. Yang tidak mendukung demo membagi video kericuhan. Pendukung demo membagi tautan berita tentang demo yang bermartabat. Yang tidak mendukung demo membagi tautan tentang aliran dana demonstran, dan seterusnya.

Hari-hari ini banyak orang telah mengetahui apa itu framing, terutama sejak Pemilihan Presiden tahun 2014 lalu (hah sudah 2 tahun ternyata), tapi untuk menerimanya, tunggu dulu. Banyak yang sudah tahu kalau berita di media tak boleh dipercaya begitu saja, tapi kalau mendukung opini kita ya boleh saja.

Bagaimanapun, menerima pandangan yang berbeda memang sulit ketika sejak lahir terbiasa menerima satu perspektif atas kebenaran. Kita telah begitu terbiasa pada binarisme. Kalau tidak Jawa ya Luar Jawa, kalau bukan Muslim ya Nonmuslim, kalau kanan baik, maka kiri buruk, kalau tidak punya pasangan, ya jomblo. Teman-teman di laman Facebook saya memang kebanyakan lahir dan besar di masa Orde Baru, pun yang komentar tentang demo kemarin. Sulit sekali lepas dari kebiasaan menilai dengan benar-salah. Jadi, meski kita semua tahu tentang framing, tahu bahwa ada realitas lain dari sekadar yang kita lihat, tetap saja kita memilih informasi sesuai yang kita mau, yang mendukung pendapat kita dan membantah pendapat lawan. Sehingga ketika memang ada ricuh, kita lalu cepat-cepat menganggap ada penyusup. Ketika ada yang merusak taman, kita segera menuduh demonstran yang melakukannya tanpa mengecek siapa yang melakukan.

Memang enak berpikir ala pokok’e. Saya benar, kamu salah. Titik.

Advertisements

3 thoughts on “Cuma Manjang-manjangin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s