Siapa yang Naik Bus Kota 10 Tahun Lagi?

Sebagai mantan penumpang setia bus kota di Yogyakarta, saya suka mikir begini. Yogyakarta ini adalah wilayah dengan transportasi publik terburuk. Sejahanam-jahanamnya Jakarta, kamu bisa pilih moda transportasi publik. Kamu bisa milih KRL, TransJakarta, angkot, atau bus kota. Sepenuh-penuhnya KRL dan TransJakarta dan setidaknyamannya angkot dan bus kota, transportasi publik itu ada dan mudah ditemui. Sementara di Yogyakarta, masalahnya adalah tidak ada. Mm.. sebenarnya ada TransJogja sih, tapi haltenya jauh-jauh. Di Jakal saja kita sulit menemukan halte. Padahal ini wilayah ramai. TransJogja juga tidak menjangkau daerah-daerah kabupaten. Saya sering bingung kalau ditanya teman tentang tempat-tempat wisata yang bisa dijangkau dengan kendaraan umum. Ada sih angkutan ke Kaliurang atau Parangtritis, tapi nunggunya bisa sampai tumbuh jenggot dulu.

Dulu ada bus Kopata, Kobutri, Aspada, dan lain-lain. Sekarang bus-bus tersebut berhenti beroperasi karena adanya TransJogja. Mereka kesulitan mendapat penumpang. Selain itu tentu saja karena sekarang lebih banyak yang pakai kendaraan pribadi. Motor murah cyin. Kalau bicarakan ini, bisa panjang banget. Ini sudah pukul 23.30. Saya ngetik di hp pula. Bisa kelewat deh tenggat posting BBKU hari ini. Ehehe.

Tapi begini. Saya bayangkan kita sudah tak lagi punya kultur naik transportasi publik. Anak teman-teman saya pun rasanya sudah tidak ada yang pernah naik kendaraan umum. Saya mengandaikan 10 tahun lagi di Yogyakarta ini tiba-tiba ada transportasi publik. Tiba-tiba pemerintah provinsi (baca: sultan) mulai membangunnya tahun depan–yang harusnya kalau mau, tinggal perintah saja, sudah bisa bikin sistem transportasi publik yang baik sejak saya masih suka naik bus, nggak usah ribut-ribut pembebasan lahan seperti di kota lain. Apakah transportasi publik baru itu ada penumpangnya ketika kultur menggunakannya sudah telanjur hilang?

Ya tapi nggak begitu juga. Pasti tetap ada orang-orang yang lebih suka naik kendaraan umum. Ya tapi memangnya 10 tahun lagi akan ada transportasi publik yang bagus di sini? Ya tapi…

Saya jadi mikir lagi.. Mending ada pilkada tapi ontran-ontran kayak di Jakarta apa nggak ada pilkada tapi… 

Gitulah… *mimik susu jahe*

Advertisements

2 thoughts on “Siapa yang Naik Bus Kota 10 Tahun Lagi?

    1. Saya minum sari pegagan, mba. Menurut penelitian, pegagan bisa meningkatkan konsentrasi. Kalau berminat minum, bisa rebus dua genggam pegagan dengan 5 gelas air menggunakan api kecil. Sisakan hingga dua gelas. Diminum saat harus berpikir. Semoga bermanfaat.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s