Pak Amandus

Belajar di sekolah negeri berarti punya keistimewaan untuk memiliki sebuah ruang belajar agama sendiri. Saat SMP, saya dan kawan-kawan punya ruang di dekat pintu masuk yang luasnya bisa diisi delapan meja untuk dua orang, sebuah lemari buku, dan satu meja guru. Di SMA, ruangan kami lebih luas. Meja ditata dalam bentuk U. Meja guru ada di tengah. Dalam ruangan di samping kantor BK itulah, kami belajar bersama Pak Amandus.

Pada hari pertama kelas agama, Pak Amandus mengenalkan dirinya. Namanya Amandus Dwiono. Amandus adalah singkatan dari Aman Menuju Kudus, begitu klaimnya. Pak Amandus bertubuh kurus, berkacamata tebal yang sudah tidak cocok dengan minusnya, rambutnya belah pinggir dan mulai menipis di depan.

Saya dan kawan-kawan senang jika waktu pelajaran agama tiba. Kelas kami yang jauh dari ruang agama memberi waktu untuk telat, pun saat harus kembali ke kelas. Kami bisa mampir jajan sebelum masuk kelas selanjutnya. Jika ditanya darimana kok telat, kami bisa menjawab dari kelas agama. Selesai perkara.

Saya sendiri senang dengan pelajaran agama ala Pak Amandus. Saya lupa berapa kali dalam setahun kami membuka Kitab Suci. Rasanya jarang sekali. Tes agama dengan kertas soal dan jawaban warna pink atau kuning untuk membedakan dengan agama lain tidak pernah sulit. Bagaimana tidak, soal-soal Pak Amandus sama dari tahun ke tahun. Sepertinya Pak Amandus hanya punya empat variasi soal untuk tiap tingkat. Selain itu, jawaban soalnya selalu berpola. Kalau tidak AAABBBCCC ya ABCDEABCDE atau ABCDEDCBA. Kalau jawabanmu tidak memiliki pola, kamu wajib curiga dengan jawabanmu. Soal tentang ayat Kitab Suci tak pernah lebih dari 10% dari total soal, daaannn konon jawabannya selalu A. Maka dari itu, nilai tes agama kami tak pernah kurang dari 8. Itu juga berarti nilai rapot kami adalah 9. Mudah sekali tes ala Pak Amandus.

Suatu pagi di pelajaran agama kami, Pak Amandus baru datang dengan motor Honda CB-nya, dengan helm miring. Kami sudah siap di meja U. Pak Amandus masuk dan mendekati salah satu dari kami, bertanya ada masalah apa. Katanya, cincin di jari manisnya berputar saat melewatinya. Itu tanda dia yang ditanya sedang punya masalah. Tapi kami tak percaya. Cincinnya berputar karena memang ia putar-putar.

Dalam sebuah retret tahunan, Agung diminta untuk memimpin doa sebelum makan. Agung berdoa panjang sekali. Ia mendoakan kami semua yang akan menyantap makanan, mendoakan ibu-ibu yang memasak di dapur, para petani yang menanam padi, sambil mensyukuri anugerah Tuhan. Selepas doanya, Pak Amandus menginterupsi sebelum kami makan. Katanya, “Kalau doa sebelum makan tidak usah panjang-panjang. Kasihan temannya yang sudah lapar, doanya tidak khusyuk karena sudah membayangkan ayam goreng dan sambal terasi di depan. Kalau mau doakan petani, nanti saja kamu doa khusus untuk mereka.” Kami semua tertawa. Sampai sekarang saya nggak bisa doa lama.

Banyak sekali cerita tentang Pak Amandus yang bagiku lucu. Hal-hal di luar pelajaran itu yang nyangkut di kepala, isi pelajarannya tidak. Tapi, ada pelajaran dari Pak Amandus yang saya ingat sampai sekarang, yaitu supaya kami tak pernah lupa mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang telah membantu kita, termasuk guru yang sedang membagikan kertas soal ujian. Saya yakin Pak Amandus nggak masalah saya tidak tahu ada berapa surat Paulus dalam Alkitab, tapi saya mengucapkan permisi saat saya melewati bapak-bapak yang sedang mengepel lantai di mall.

Sehat selalu, Pak Amandus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s