Aw(kw)ard atau A(wk)ward

Apa beda aw(kw)ard dengan a(wk)ward? Kl menurut saya, yang pertama menekankan ke KW, sementara yang kedua menekankan ke WK. Yang satu tentang kualitas, yang lain tentang kelucuan. Sama dengan blog-blog BBKU yang isinya ada yang berkualitas, ada yang lucu. *yes cocokologi*

Pasca-BBKU 3 berakhir, admin memberi PR untuk memilih blog-blog yang mestinya mendapat awkward. Kalau menurut saya sih, mereka ini yang pantas menang.

1. Ter-Stuart Hall

Jelas gelar ini saya anggap pantas diserahkan kepada Dewi Fadhilah Soemanegara. Ia tak hanya konsisten mengisi blog-nya selama 30 hari, tapi juga tidak pernah telat, tidak pernah kebanyakan cakap di grup WA, dan isi blognya benar-benar memberi pencerahan untuk pembacanya.

2. Ter-Matthew Arnold

Bagi saya, blog mbak Dewi lagi-lagi pantas mendapat gelar dalam BBKU 3 awkward. Membaca tulisan-tulisannya, saya merasa kok hidupnya seperti berbudaya banget. Lihat saja tempat mainnya, candi sis! Kurang berbudaya apa lagi?

3. Ter-Raymond Williams

Blog milik Stephanie di Sleman memang seringkali mengangkat hal-hal remeh, seperti menari di atas mentega dan resep menyelamatkan nasi padang semalam. Meski demikian, selalu ada makna di balik semua pertanda *nyanyi*. Saya tidak ragu lagi menempatkan blog Sis Steph di kategori ini.

4. Ter-Guy Debord

Ada 3 blog yang menurut saya laik mendapat gelar sebagai ter-Guy Debord. Andai blog kak Hair idolaque boleh dinilai, maka saya akan pilih 4. Tiga blog itu adalah milik AngelaGisela, dan mas Aji (urutan dari BBKU, bukan urutan dari saya ya). Mereka bertiga telah memamerkan kemampuan mereka berkarya. Angela dengan cerpen-cerpennya, Gisel dengan puisi tiga barisnya, dan mas Aji dengan gambarnya. Benar-benar pamer mereka!

5. Ter-Nobel

Tulisan keren berjudul Jangan Dipelajari! sangat pantas mendapat gelar ternobel. Ya Tuhan, ini tulisan bagus bener *eling Tuhan*. Judulnya yang minta jangan dipelajari justru membuat saya ingin mempelajari.

6. Top Commenter

Ada dua orang yang sama-sama sering mengomentari postingan blog saya. Mereka adalah admin Wafiq dan (Tan)ya alias Rena dari Pogung. Saya mengucapkan terima kasih pada para komentator, terutama dua orang selo tadi, yang berarti membaca postingan nggak jelas saya.
Sesungguhnya blog-blog lain juga sangat keren, hanya saja nggak ada kategori pemilihannya. Begitu.

Aceh

Tahun 2012, saya ke Medan untuk mencari beberapa hal di sana. Saya dibantu oleh banyak orang, termasuk seorang mahasiswa salah satu universitas di Aceh yang sedang libur dan pulang ke Medan. Ia cerita tentang pengalamannya di Aceh. 

Tak banyak yang saya ingat karena saya lalu bertemu lebih banyak orang. Tapi ada satu cerita tentang Aceh yang masih saya ingat benar. Dalam situasi tertentu, Aceh bisa sangat mencekam, terutama saat politik di sana bergejolak. Jika demikian, maka ia biasa melihat seorang ditembak di kepala saat berjalan di trotoar. Lalu kompleks perumahan bisa tiba-tiba mati listrik. Jika demikian, tak heran jika ketika listrik menyala, ada tetangga yang hilang. Entah siapa pelakunya, entah siapa korbannya. Mahasiswa yang membantu saya cerita jika ia mulanya takut, tapi lama-lama terbiasa. 

Menurutnya, ada kelompok orang di Aceh yang tidak suka dengan orang Jawa. Katanya, “kalau mereka baca nama mbak nih, habis riwayat.” Nama belakang saya memang sangat Jawa. Apalagi logat saya. 

Dari cerita itu, saya sempat menaruh Aceh pada daftar kota yang tak ingin saya kunjungi. Biarpun banyak juga cerita yang mengatakan Aceh indah dan damai. Saya sadar saya percaya pada cerita orang dan tidak mau mencari sisi lain dari Aceh yang pasti menarik. Tapi sekarang saya akan masukkan Aceh ke dalam daftar kota yang ingin saya kunjungi. Ini akan jadi tantangan buat saya untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakan seseorang tentang sesuatu tidak pernah mewakili seluruhnya tentang sesuatu itu. Realitas itu plural, Jenderal! Begitu kata Saukko (kutip-kutip padahal baca aja kagak).