Menjadi Orang Salatiga

Menanyakan asal daerah adalah hal yang wajar dalam dunia basa-basi orang Indonesia. Saya juga sering ditanya dari mana ketika bertemu orang baru. Jika ditanya asal, maka saya akan jawab sekenanya, Jogja atau Salatiga, tergantung si penanya. Ketika menjawab dari Jogja, relatif tidak ada masalah, paling ditanya Jogja sebelah mana, lalu beralih ke obrolan macam-macam. Beda ketika saya menjawab Salatiga. Ada tiga reaksi umum ketika Salatiga jadi jawaban saya. Pertama, di mana tuh? Kedua, oo itu sama dengan Solo ya? Ketiga, benar tujuh dong/dapat tujuh dong/nilainya tujuh dong. Sampai bosan. 

Saya pun punya jawaban template untuk ketiga reaksi tersebut. Reaksi pertama dan kedua biasa saya jawab dengan menyebut bahwa Salatiga terletak di antara Solo dan Semarang. Sementara reaksi ketiga, ini yang paling sering, saya jawab dengan begini, “bukan 7 tapi 8,5 karena soalnya 20. Kamu pikir semua soal 10?”

Tentu saja pertanyaan balik itu saya ucapkan dalam hati sembari tersenyum malas. 

Target 2017

Ini sudah tahun 2017. Saya ingin ikut-ikutan bikin resolusi. Biarpun ini sudah tanggal 19, tapi tak apalah. Barangkali dengan tulisan di blog ini, akhir tahun nanti bisa dievaluasi lagi. Hmm.. mungkin bukan resolusi ya, tapi target. Apa sih beda resolusi dengan target? Bisa jadi sama sih. Males buka KBBI ini. Huehue. Intinya, ini target 2017-ku.

1. Baca minimal 24 buku sampai habis.

2. Satu tulisan dimuat di jurnal.

3. Nonton motogp di Sepang (mumpung Rossi belum pensiun 😆)

Sudah ini saja. Semoga terlaksana.

Sebenarnya pengen banyak seperti di gambar, tapi… cukuplah itu jadi usaha. Huehue.

11 Hari Berlalu

Sudah sebelas hari di tahun 2017 ini berlalu. Belum ada hal produktif yang rasanya sudah kulakukan. Akhir tahun lalu dan awal tahun ini malah penyakitan. Awal Desember lalu kena flu, menjelang Natal kena belekan, menjelang Tahun Baru gatelan karena digigit serangga, dan awal tahun ini flu kembali menyerang. Betapa sehat itu begitu berharga. 

Manusia adalah makhluk yang suka menyesal. Kalau sedang sakit begini suka menyesal mengapa kemarin-kemarin malas olah raga. Lantas janji untuk olah raga kalau sudah sembuh. Tapi lupa olah raga kala sehat. Begitu terus. Sama dengan saat bikin resolusi tahun baru. Semangat di awal, menyesal di akhir tahun, semangat di awal lagi, dan seterusnya.

Gitulah.