Pakdhe Jo

Papah dan ibuk saya berasal dari keluarga yang besar. Tak heran saya punya banyak pakdhe, budhe, om, dan bulik. Tapi favorit saya adalah Pakdhe Jo. Ia adalah suami kakak kedua papah, Budhe Tik.

Pakdhe Jo dulunya adalah tentara, tapi saya tak pernah lihat ia menjadi orang yang galak, sebagaimana sifat itu biasa dilekatkan kepada para militer. Sebaliknya, kesan yang selalu saya tangkap adalah pakdhe yang lucu. Pakdhe Jo bisa muncul kapan saja di rumah, terutama saat malam hari. Kadang ia mampir sepulang dari latihan keroncong, kadang mampir karena pengen bakmi godhog dekat rumah, kadang mampir setelah jenguk cucunya yang adalah tetangga saya, atau kapanpun Pakdhe Jo mau. 

Saya selalu senang jika Pakdhe Jo mampir ke rumah. Saya sampai hafal saat motor GL-nya berhenti di depan rumah. Sebelum memakai GL, Pakdhe Jo adalah pengguna setia vespa. Jika Pakdhe Jo datang malam hari, tentu saja jam tidur saya akan molor karena tidak rela tidur sebelum Pakdhe Jo pulang. 

Jika Pakdhe Jo datang ke rumah, ia selalu menanyakan kabar semuanya. Kalau saya sakit, Pakdhe mau mijitin saya. Pernah suatu hari saat memijat kaki saya, Pakdhe langsung tahu kalau saya nggak bisa lari. Memang benar saya nggak bisa lari, muter GSP sekali saja sudah habis napas. Yang paling sering adalah saya tidur saja di pangkuannya sambil mendengar ceritanya tentang apa saja. 

Dalam setiap kedatangannya ke rumah, seringkali ia mengabarkan kondisi saudara-saudara saya atau tetangga-tetangga dekat rumahnya yang bersebelahan dengan rumah mbah kung. Tentu bagi saya itu bukan informasi penting. Tapi bagi papah, kabar dari Pakdhe Jo adalah pengikatnya dengan kampung halaman selepas mbah kung meninggal. 

Selepas pensiun, Pakdhe Jo memang tak melakukan banyak pekerjaan. Paling-paling antar jemput Budhe ke dan dari pasar. Budhe saya orangnya gemuk. Gemuk sekali. Oleh karena itu, hanya Pakdhe Jo yang bisa mengantar-jemputnya. Sekira 4 tahun lalu Budhe meninggal. Pakdhe Jo jadi tinggal sendiri. Setelah sakit beberapa bulan, hari ini Pakdhe Jo bersatu kembali dengan Budhe Tik. Mungkin di sana mereka sedang boncengan naik vespa keliling-keliling kota dengan mesra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s