Atambua

Dahulu Atambua bukan wilayah yang penting. Dahulu itu adalah ketika Timor Leste masih Timor Timur. Atambua hanya sebatas bagian dari Kabupaten Belu. Namun sejak Timor Timur lepas dari Indonesia, Atambua menjadi wilayah yang sangat penting karena ia menjadi penghubung antara Indonesia dengan Timor Leste. Di Atambua-lah lalu lintas darat warga kedua negara dicatat.

Setelah tahun 2014 punya kesempatan untuk ke Entikong, perbatasan Indonesia-Malaysia, saya punya kesempatan ke perbatasan lagi tahun 2016 lalu, salah satunya ke Atambua. Atambua adalah ibukota Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Perjalanan berangkat saya ke sana saya lalui lewat jalur udara. Rutenya adalah Jogja-Jakarta-Kupang-Atambua. Saya berangkat malam dari Jogja untuk kemudian transit di Jakarta. Sekira pukul 03.10, pesawat berangkat ke Kupang. Saya pilih tidur saja di pesawat karena perjalanan cukup panjang, 3 jam. Saya sampai di Kupang pukul 07.10. Kupang atau NTT memang lebih cepat satu jam dibanding Jogja. Setelah dijemput untuk sarapan dan melihat-lihat sekitar, perjalanan lanjut ke Atambua dengan pesawat kecil pukul 11.20 dan hanya makan waktu kurang lebih 45 menit. Jauh lebih cepat dibanding perjalanan darat saya saat pulang yang memakan waktu hingga 7 jam. Sampailah saya di Atambua tengah hari. Setelah makan dan menaruh barang di hotel, saya dan rombongan menuju kantor setempat. Kami disambut dengan tari-tarian dan diberi selempang atau syal khas NTT. Baru kali ini saya datang ke sebuah kantor dan disambut sedemikian meriah. Yaa meskipun sebenarnya bukan saya yang disambut sih. Hehe.

Atambua adalah kota yang panas dan kering. Selain itu, Atambua punya kontur yang naik turun alias berbukit-bukit sehingga akan sangat mudah menemukan pemandangan yang menarik ketika berada di ketinggian.

Kota Atambua masih sepi. Di kompleks kantor pemerintahan, jarang ada kendaraan lewat. Paling-paling keramaian bisa ditemukan di sekitar pasar. Saat malam, beberapa warung cukup ramai dikunjungi pendatang maupun penduduk setempat. Atambua memang baru berkembang setelah 1999. Namun, sebagai wilayah baru, fasilitas di Atambua lumayan lengkap. Selain bandara, hotel-hotel di Atambua sudah lumayan bagus. Hotel terbagus, Matahari, memiliki kamar-kamar yang luas, sarapan yang cukup, dan wi-fi yang kencang. Atambua kerap jadi tempat transit orang-orang dari dan ke Timor Leste.

Selain putar-putar kota, saya juga mendapat kesempatan ke perbatasan Timor Leste. Untuk mencapai perbatasan, butuh waktu sekitar satu jam dari pusat kota Atambua. Jalan menuju perbatasan berkelok-kelok, tapi jalannya sudah teraspal halus. Jika ke sana, jangan lewatkan pemandangannya. Sayang karena kesorean, saya tidak sempat masuk Timor Leste. Indonesia dan Timor Leste dibatasi dengan jembatan. Saya hanya melewati jembatan saja tapi tidak masuk ke negara tetangga. Tentu saja, kalau hari lebih siang, saya akan  nyebrang meskipun tanpa paspor. Di perbatasan seperti Atambua ini memang biasanya penduduk bisa menyeberang tanpa paspor sampai kota terdekat.

Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan TNI yang bertugas di perbatasan. Saat melihat orang Indonesia datang dari negara sebelah membawa sekarung beras, si bapak tentara mengatakan sudah biasa orang kita belanja atau berdagang di sana. Pun sebaliknya. Malam itu pula ada suami-istri dan seorang anaknya dari Timor Leste menyapa kami sepulang beli bakso di Indonesia. Bayangin, beli bakso aja keluar negeri!

Perpisahan Timor Leste dari Indonesia memang mungkin cara yang baik bagi warga di sana untuk lepas dari penjajahan Indonesia. Namun, perpisahan itu tak dimungkiri membawa kesedihan bagi sebagian orang, terutama mereka yang terpisah dengan keluarganya. Bagaimanapun, banyak dari mereka berasal dari suku yang sama. Saya bayangkan, pada pintu-pintu perbatasan non-utama, baik penduduk Indonesia maupun Timor Leste biasa melintas untuk kebutuhan sehari-hari atau ketika ada acara-acara adat yang melibatkan suku yang sama di kedua negara. Petugas pun telah kenal baik dengan mereka yang setiap hari melintas sehingga tak perlu pemeriksaan. Dalam situasi ini, perbatasan negara jadi tidak lagi penting.

Saat saya datang ke sana, pos perbatasan sedang dibangun dan hampir selesai. Tampak sekali kemegahan pos perbatasan yang mungkin akan membawa warga Indonesia di sana bangga menjadi bagian dari Indonesia. Saya jadi penasaran bagaimana wujudnya sekarang setelah pos tersebut diresmikan. Tapi yang lebih membuat saya penasaran adalah apakah pos megah tersebut diikuti oleh kemudahan dan kesejahteraan warga setempat.

Advertisements

One thought on “Atambua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s