Mimpi UGM

Sambil mengucek mata yang masih mengantuk, aku menerima telepon dari rektor baru UGM. Ia mengajakku ketemu di sebuah kafe kecil di kampung utara UGM. Aku segera bersiap untuk bertemu sambil tak henti menebak apa maksud ajakannya bertemu denganku, padahal aku mengenalnya pun tidak. Tentu yang dimaksud kenal adalah kenal secara personal ya. Kalau kenal nama, jelas aku mengenalnya. Bagaimanapun, aku adalah orang yang berwawasan luas. Aku tahu nama orang-orang yang kerap muncul di media maupun dalam percakapan orang-orang.

Rupanya bukan cuma aku yang diajak bertemu olehnya. Ada dua orang lagi yang tak kukenal. Di kafe kecil itu kami berkenalan. Saat rektor baru UGM mengambil menu, kami yang baru kenal ini sama-sama menautkan alis, penasaran dengan maksudnya mengundang kami. Sembari menunggu pesanan kopi susu, rektor baru menyampaikan maksudnya. Ia ingin tahu pendapat kami, orang-orang lemah ini, tentang apa yang harus dilakukan UGM ke depan. Aku tak ingin cerita pendapat dua orang lemah kenalan baruku ini. Aku lebih suka menyampaikan pendapatku saja.

Begini.

Pada tahun ajaran baru, UGM hanya menerima orang-orang pintar, bukan hanya orang-orang kaya. Jadi, tak perlu lagi ada berita tentang anak tukang becak lulus dari UGM dengan predikat cum laude. Itu biasa saja, bukan berita.

Kuliah kedokteran harus digratiskan dengan catatan lulusannya nanti harus mau praktik di seluruh pelosok Indonesia dengan bayaran maksimal Rp20.000 per pasien, bukan hanya di Sardjito atau Panti Rapih. Tentu juga tak boleh kongkalikong dengan perusahaan obat untuk dapat mobil atau liburan ke luar negeri.

Dosen-dosen teknik Arsitek, Sipil, dan Tata Kota mulai memikirkan solusi banjir, bukan hanya di perempatan MM tapi juga seluruh Indonesia. Lulusan Pertanian, Teknologi Pertanian, Perikanan, dan Peternakan nantinya bersama petani dan peternak bekerja sama membuat Indonesia berdaulat pangan. Mahasiswa MIPA juga perlu belajar Filsafat, bukan hanya agama.

Orang-orang Ekonomi mulai mengembangkan koperasi di desa-desa. Pengacara lulusan Hukum mendampingi korban-korban konflik agraria. Dan seterusnya.

Tirai-tirai ruang kuliah dibuka, lampu dimatikan. Jendela juga dibuka, AC dimatikan. Tulisan aturan berpakaian diturunkan. Bebas saja mahasiswa berpakaian. Perpustakaan buka 24 jam, seperti burjo.

Dosen-dosen cukup mengajar 2-3 mata kuliah, tapi harus terus berkarya. Para profesor lebih sering riset ketimbang jadi konsultan di sana-sini. Mahasiswa cukup kuliah 4 subjek per semester, tapi harus baca 5 buku dan/atau 20 jurnal per mata kuliah.

Lima atau sepuluh tahun lagi, lulusan UGM tidak mencari kerja, tapi membuat karya atau bekerja bersama warga. Roda kapitalisme yang digerakkan oleh para lulusan UGM mandek. Koperasi berkembang. Petani maju. Orang sakit tak takut berobat.

Rektor baru manggut-manggut mendengar pendapatku. Sambil menyesap kopinya yang mulai dingin, ia berkata, “Kamu pikir UGM lembaga sosial? Pendidikan itu industri, Sis. In-dus-tri!”

Advertisements

3 thoughts on “Mimpi UGM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s