Katarsis

Aku tak percaya pada akhir pekan. Ia malah membuat tanganku makin hitam. Antrean di tiap-tiap perempatan makin panjang. Konon, akhir pekan adalah waktu untuk istirahat, bukan malah jalan-jalan ke luar kota. Itu hanya akan membuatmu lelah di minggu berikutnya. Tapi semua orang telah terlalu memuja akhir pekan.

Seperti telah kukatakan tadi, aku tak percaya pada akhir pekan. Apalagi akhir pekan panjang. Warung-warung makan makin penuh, menyisakan aa’-aa’ burjo yang ngelangut menunggu orang-orang malas sepertiku.

Tapi akhir pekan telah telanjur jadi moment untuk mengonsumsi setelah lima hari sebelumnya terus berproduksi. Perkara produksi apa, entahlah. Aku katakan aku tak percaya pada akhir pekan. Tapi itu hanya di jempolku. Tubuh dan otakku malah lebih percaya pada akhir pekan: mengonsumsi kemalasan.

Advertisements

One thought on “Katarsis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s