Seandainya

Bayangkanlah seperti ini. Malam lumayan dingin–memang tidak sedingin malam-malam sebelumnya yang selalu disertai hujan deras. Gerimis tipis-tipis. Kamu begitu lelah dan lapar. Seharian kamu bekerja dan rapat, benar-benar dari pagi hingga malam sekali. Atau kamu lelah dan lapar setelah hampir lima jam berdiri di lapangan GSP karena ingin nonton Tulus. 

Dalam perjalanan pulang, kamu membayangkan sepiring nasi hangat dengan ayam penyet di atasnya. Ini bukan ayam penyet biasa. Ini adalah ayam penyet burjo Rio. 

Ayamnya bukan ayam goreng tepung besar yang dagingnya cuma sedikit seperti yang sedang marak di Yogyakarta. Daging ayamnya sangat tebal. Bikin kamu puas. Ayamnya juga sudah dibumbui sebelumnya. Entah bumbu apa, yang pasti enak sekali. Ayamnya digoreng lagi ketika kamu pesan ke penjual.

Yang penting lagi adalah sambalnya. Bayangkan saat kamu pesan cabai tiga. Ibu penjual akan memilihkanmu cabai-cabai warna jingga yang menggoda. Lalu ia letakkan di atas ulegan beserta bawang merah dan garam. Sambil bercerita tentang apa saja, ia haluskan cabai dan lainnya. Ia ambil sedikit minyak dari penggorengan untuk menambah nikmat sambalnya. 

Saat ayam sudah panas, ia angkat ayam dari wajan dan ia taruh di atas ulegan. Ia penyet sampai sedikit lumat. Setelah ia siapkan nasi hangat di piring, ayam penyet akan menghiasi atasnya. Siap kamu santap. Tambah sedikit kering tempe jika kamu mau. 

Itu adalah kenikmatan yang tiada tara.

Tentu saja jika saat kamu sampai di sana, ayam masih tersisa. Tidak seperti malam ini saat aku ke sana dan terpaksa makan nasi telor saja. 

Advertisements

Mana yang Lebih Menyedihkan?

Hujan deras seharian. Dingin. Lapar malam-malam. Pengen pesan makanan via go food. Lalu berpikir, kasihan driver gojeknya, hujan begini. Lalu berpikir lagi, ada driver gojek yang sudah hujan-hujan begini nunggu orderan nggak dapat-dapat karena orang-orang berpikir kasihan dia harus hujan-hujanan. 

Apakah aku harus pesan makanan lewat go food?

Perempuan-Perempuan Barista

Aktivitas sehari-hari saya adalah mengunjungi kafe untuk menghambur-hamburkan uang honor saya sebagai seorang pekerja lepas beriman tebal. Meski demikian, saya tidak berani menyatakan diri sebagai coffee addict karena saya masih lebih suka pesan milk with ginger–bilamana ada–daripada kopi-kopi nusantara. Paling mentok ya cafe latte alias kopi susu. Aktivitas perkafean saya sebatas masuk-duduk-pesan-goda-goda barista-kerja-minum-bayar-pulang sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan.

Beberapa tahun terakhir memang makin banyak kafe di Jogja, lucu-lucu pula. Instagramable kata rang-orang. Selain tempatnya yang didesain dengan apik, fenomena lainnya adalah adanya barista-barista perempuan. Dulu, kafe seperti Semesta, Ningratri, Mato, dan Manut–yang tenar sebelum ada kafe lucu-lucu–didominasi oleh barista laki-laki. Kemunculan barista perempuan menunjukkan bahwa …

Siapalah saya bergaya-gaya mau membahas barista perempuan. Lha muka mas-mas barista yang barusan saya goda saja saya sudah lupa, apalagi barista-barista perempuan yang saya temui beberapa hari yang lalu. Pankapan deh kalau saya sudah melakukan sedikit wawancara atau observasi partisipasi dengan mereka, saya tulis di sini. Ini adalah bentuk self-reflexivity saya untuk tidak membuat penghakiman pada fenomena, seperti kata Saukko (lalu dikeplak Pak Faruk: ora ngene Ndes maksude).

 

Terima kasih mau baca tulisan sampah ini.

 

Desmond yang Ngeselin

Aku bukan orang yang suka buka YouTube. Alasannya klise, kuota terbatas dan HP masih belum 4G. Kasian yak? Namun, ketika ada wi-fi dan ingat, aku akan buka YouTube. Biasanya aku hanya mendengarkan lagu tapi nggak nonton. Paling-paling aku cari penyanyi tertentu dan kubiarkan dia bernyanyi sepanjang aku melakukan hal lain di laptopku. Biasanya aku akan mendengarkan Sting, John Mayer, dan–paling sering–One Direction, Khusus yang terakhir, aku akan meninggalkan pekerjaanku dan memilih nonton dedek-dedek emesh itu, terutama video-video konser mereka.

Kadang-kadang, aku juga buka video-video nonlagu seperti tutorial-tutorial DIY atau video-video interior yang bikin pengen tapi nggak bakal kesampaian. Aku juga suka menonton ini: Desmond yang ngeselin. Tontonlah dan lihatlah betapa ngeselinnya si Desmond.

 

Ide-ide

Ada orang-orang yang punya banyak ide tapi terlalu banyak mikir sampai idenya menguap begitu saja, seperti aku. 

Ada orang-orang yang setiap punya ide sedikit saja langsung dieksekusi. Orang-orang di sekitarku banyak yang seperti ini. Setiap ada keinginan, orang-orang ini akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapainya, kerja keras, disiplin, dan konsisten. Menurutku, orang seperti ini keren. Kadang aku ingin seperti mereka.

Ada orang-orang yang nggak punya banyak ide. Mereka menjalani saja apa yang ada di depannya. Kupikir hidup mereka nyaman sekali. Kadang aku ingin seperti mereka. 

Jadi, intinya apa? Nggak ada.

Idola Eug

Saya tidak ingat betul kapan mulai kenal dia. Mungkin saat nongkrong di kantin Sospol, mungkin saat … entahlah. Yang pasti, sebelum pertemuan di Semesta, saya hanya tahu ada orang dengan rupa itu.

Perkenalan lebih dekat dimulai dengan membaca cerita anak karyanya yang dia kirim ke posel Yosie. Waktu itu dia minta Yosie membaca karyanya dan mengomentarinya. Saya ikut-ikutan baca dan komentar; komentar yang lebih panjang dari Yosie sampai-sampai Yosie memilih mempertemukan kami saja daripada jadi perantara komentar.

Lalu mulailah kami ketemu di Semesta untuk membahas  karya-karya bikinannya, cerita hewan yang berperikehewanan. Keahliannya menulis cerita anak membuatku coba-coba menulis buku untuk anak juga meski nggak sebagus buatannya. Dia juga menulis banyak puisi dan lirik lagu yang bikin terharu walau bukan untukku.

Sampai akhirnya kami bertiga memutuskan membuat komunitas belajar bahasa Indonesia pada malam Valentine 2012. Dia memutuskan diri sebagai direktur dan kami menerima begitu saja. Aklamasi.

Saat ia masuk KBM tahun 2013, saya langsung tertarik mengikuti jejaknya. Dia tampak sangat pintar dan kritis. Tulisannya tersebar di beberapa jurnal maupun portal opini. Tiga tahun kemudian saya juga masuk KBM, tapi tetap saja saya nggak pintar dan kritis sampai sekarang. -_-”

Dalam beberapa hal, saya tertarik mengikuti jejaknya, kecuali untuk jadi vokalis. Saya sadar suara saya datar. Cukuplah saya dengar suaranya saja.

Kamu mau kenalan sama dia? Japri ya!