Ide-ide

Ada orang-orang yang punya banyak ide tapi terlalu banyak mikir sampai idenya menguap begitu saja, seperti aku. 

Ada orang-orang yang setiap punya ide sedikit saja langsung dieksekusi. Orang-orang di sekitarku banyak yang seperti ini. Setiap ada keinginan, orang-orang ini akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapainya, kerja keras, disiplin, dan konsisten. Menurutku, orang seperti ini keren. Kadang aku ingin seperti mereka.

Ada orang-orang yang nggak punya banyak ide. Mereka menjalani saja apa yang ada di depannya. Kupikir hidup mereka nyaman sekali. Kadang aku ingin seperti mereka. 

Jadi, intinya apa? Nggak ada.

Advertisements

Idola Eug

Saya tidak ingat betul kapan mulai kenal dia. Mungkin saat nongkrong di kantin Sospol, mungkin saat … entahlah. Yang pasti, sebelum pertemuan di Semesta, saya hanya tahu ada orang dengan rupa itu.

Perkenalan lebih dekat dimulai dengan membaca cerita anak karyanya yang dia kirim ke posel Yosie. Waktu itu dia minta Yosie membaca karyanya dan mengomentarinya. Saya ikut-ikutan baca dan komentar; komentar yang lebih panjang dari Yosie sampai-sampai Yosie memilih mempertemukan kami saja daripada jadi perantara komentar.

Lalu mulailah kami ketemu di Semesta untuk membahas  karya-karya bikinannya, cerita hewan yang berperikehewanan. Keahliannya menulis cerita anak membuatku coba-coba menulis buku untuk anak juga meski nggak sebagus buatannya. Dia juga menulis banyak puisi dan lirik lagu yang bikin terharu walau bukan untukku.

Sampai akhirnya kami bertiga memutuskan membuat komunitas belajar bahasa Indonesia pada malam Valentine 2012. Dia memutuskan diri sebagai direktur dan kami menerima begitu saja. Aklamasi.

Saat ia masuk KBM tahun 2013, saya langsung tertarik mengikuti jejaknya. Dia tampak sangat pintar dan kritis. Tulisannya tersebar di beberapa jurnal maupun portal opini. Tiga tahun kemudian saya juga masuk KBM, tapi tetap saja saya nggak pintar dan kritis sampai sekarang. -_-”

Dalam beberapa hal, saya tertarik mengikuti jejaknya, kecuali untuk jadi vokalis. Saya sadar suara saya datar. Cukuplah saya dengar suaranya saja.

Kamu mau kenalan sama dia? Japri ya!

Surga

Mother Teresa yang baik itu masuk surga nggak?

Kamu kalau ditanya gitu, jawabanmu harusnya “nggak, karena Mother Teresa belum beriman.”

Coba cari arti iman di Google!

(Nguping mas-mas di samping lagi telponan. Kudoakan masnya nanti masuk surga dan ketemu Mother Teresa. Amin)

FGD

Focused Group Discussion (FGD) merupakan suatu cara untuk mengetahui gagasan, atau pandangan, atau pengalaman sekelompok orang terhadap permasalahan-permasalahan tertentu. Cara ini biasa digunakan untuk memperoleh data dalam sebuah penelitian sosial maupun untuk melihat kapasitas orang dalam sebuah proses rekrutmen pegawai. Tulisan ini akan membahas tentang FGD sebagai sebuah metode pengumpulan data dalam sebuah penelitian sosial.

Terdapat tiga kata kunci dalam istilah FGD, yaitu:
1. Diskusi–>bukan wawancara atau obrolan
2. Kelompok–>bukan individual
3. Terfokus–>bukan bebas

FGD berarti suatu proses pengumpulan data dan informasi yang sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok. FGD dilakukan apabila pertanyaan dalam penelitian sudah sangat jelas dan spesifik. Diskusi ini dilakukan bukan untuk mencapai kesepakatan tertentu tentang suatu permasalahan. (more…)

7 Pertanyaan supaya Liburanmu Tetap Asyik

Lebaran sebentar lagi tiba. Banyak yang sudah pulang kampung, banyak yang masih di perjalanan, dan masih banyak juga yang masih di perantauan, bersiap pulang. Lebaran jadi moment yang dianggap tepat untuk bertemu dengan saudara dan teman-teman, bertukar kabar, dan bercengkerama. 

Saat seperti ini, pertanyaan “apa kabar?” saja rupanya masih kurang. Pertanyaan tentang kabar sering kali dirinci menjadi “kapan sampai?”, “sekarang tinggal di mana?”, “kuliah/kerja di mana?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih bisa kita jawab dengan enteng. Namun, rupanya orang Indonesia punya bakat jadi penyelidik. Pertanyaan dilanjutkan ke “kapan kawin?”, “kapan lulus?”, “kok gendutan?”, “kapan punya anak?”, dan sebagainya yang bikin kita malas jawab. Sampai-sampai banyak meme yang beredar di media sosial tentang hal itu. 

Nah, supaya silaturahmi lebih asyik, kenapa bukan kita duluan yang bertanya? Tentu saja pertanyaan yang kita ajukan bukan pertanyaan orang kebanyakan seperti di atas. Setelah kita bertanya apa kabar, kita bisa ajukan pertanyaan-pertanyaan asyik berikut.

  1. Kemarin nonton Mata Najwa yang edisi Gus Mus dan Pak Quraish Shihab nggak? Keren yah mereka? Aku pengen bisa rendah hati kayak mereka. 
  2. Oya, buku apa yang terakhir kamu baca? Tentang apa tuh? Sudah baca novel JK Rowling yang pakai nama samaran? Bagus banget itu. 
  3. Wah, ada perkembangan apa nih di kota kita? Kira-kira apa yang bisa kita lakukan ya supaya kota kita lebih bagus? 
  4. Eh, sudah nonton film Wonder Woman belum? Gal Gadot cantik banget ya? Wah, belum? Ya susah sih ya kalau di sini nggak ada bioskop, padahal bisa buat hiburan warga ya. Gimana caranya ya supaya bisa ada bioskop di sini? Apa bikin bioskop alternatif aja?
  5. Kamu punya blog nggak? Minta alamat blogmu dong, biar aku bisa baca-baca pikiran atau kabar kamu. Oh, nggak punya ya? Bikinlah! Lumayan lho buat nulis-nulis sampah kayak tulisan ini. Mau dibuatin?
  6. Pasar di sini ramai juga ya? Apa cuma pas lebaran aja? Harusnya pemda bisa bangun dan sosialisasikan pasar tradisional dengan baik ya supaya pasar bisa terus bertahan, nggak kalah sama swalayan atau mall.
  7. Perpustakaan daerah di sini di mana ya? Pernah ke sana belum? Bukunya bagus-bagus nggak? Ramai nggak kalau pas buka? Pengen deh main ke Perpusda. 

    Silakan pilih pertanyaan yang kamu suka dan ajukan sebelum lawan bicaramu bertanya macam-macam. Siapa tahu kamu bisa nemu ide-ide baru untuk bangun kota asalmu. Bisa juga kamu dapat referensi film atau buku baru. Asyik kan? 

    Selamat mencoba! 😊

    Koma Sebelum “Dan”

    Sebuah pesan singkat masuk di ponsel saya,

    “Mana yang benar, ‘aku, kamu, dan dia’ atau ‘aku, kamu dan dia’?”

    Tanda baca koma sebelum “dan” sering kali menjadi pertanyaan. Apakah perlu tanda koma sebelum “dan”? Ataukah tidak? Jawaban saya tergantung konteks. Tentu saja jika hanya dua kata yang dihubungkan dengan “dan”, maka tidak perlu koma, seperti aku dan dia atau makanan dan minuman.

    “Aku, kamu, dan dia” berbeda makna dengan “aku, kamu dan dia”. “Aku, kamu, dan dia” menunjukkan ada tiga bagian di dalamnya, yaitu (1) aku, (2) kamu, dan (3) dia. Dalam “aku, kamu dan dia” hanya ada dua bagian, yaitu (1) aku dan (2) kamu dan dia. Kamu dan dia adalah satu kesatuan.

    Tanda koma sebelum “dan” bisa membedakan makna. Contoh perbedaannya ada dalam dua kalimat ini.

    (1) Mattia membelikan kopi untuk Donna, Bona, dan pacarnya.

    (2) Mattia membelikan kopi untuk Donna, Bona dan pacarnya.

    Pada kalimat pertama, yang dibelikan kopi oleh Mattia adalah (1) Donna, (2) Bona, (3) pacar Mattia, sedangkan pada kalimat kedua, Mattia membeli kopi untuk (1) Donna, (2) Bona, (3) pacar Bona. Jika demikian, maka pada kalimat seperti kalimat kedua, saya lebih suka mengganti dengan “Mattia membelikan kopi untuk Donna serta Bona dan pacarnya” untuk mengurangi ambiguitasnya.

    Contoh lainnya adalah ketika dalam sebuah pemilihan kepala cabang sebuah kantor terdapat beberapa tahap seleksi, yaitu (1) seleksi berkas, (2) TPA, (3) wawancara, (4) uji kepatutan dan kelayakan. Dalam kasus tersebut, kita bisa menulis “Seleksi pemilihan kepala cabang dilakukan dalam beberapa tahap, antara lain seleksi berkas, TPA, wawancara, uji kepatutan dan kelayakan,” (tidak perlu koma sebelum “dan”) atau “Seleksi pemilihan kepala cabang dilakukan dalam beberapa tahap, antara lain seleksi berkas, TPA, wawancara, dan uji kepatutan dan kelayakan.” Namun, kalimat terakhir ini tidak nyaman dibaca.

    Secara umum, pertanyaan yang ditujukan ke saya di awal tulisan ini akan saya jawab dengan: aku, kamu, dan dia. Perlu koma sebelum “dan”.