Entikong

Setelah melalui perjalanan panjang tujuh jam dari Pontianak, sampailah saya dan dua orang teman di Entikong. Waktu itu hari sudah gelap. Entikong dingin. Itu pertama kalinya saya pergi ke perbatasan. Entikong adalah sebuah kota kecamatan saja. Ia bagian dari Kabupaten Sanggau, Kalbar, yang letaknya tepat di selatan Malaysia. Saya dan teman-teman segera diantar ke penginapan, bukan hotel berbintang, tapi Hotel Bintang. Saya belum sempat melihat apa-apa di hari pertama karena langsung istirahat.

Esoknya saya baru punya kesempatan untuk mengeksplorasi Entikong. Sebenarnya tidak bisa dikatakan eksplorasi juga karena yang saya lakukan hanya melintas di atas jalan antarnegara Malindo, Malaysia-Indonesia. Jalan Malindo sangat kecil, saya membandingkannya hanya seperti Jalan Imogiri saja saking kecilnya dan rusaknya jalan. Di pinggir-pinggir jalan ada rumah-rumah dan warung-warung kecil milik warga.

Entikong jarang disinggahi orang, kecuali mereka yang mau melintas ke Malaysia atau Brunei namun kemalaman. Karenanya akomodasi di Entikong sungguh tak memadai. Hotel Bintang yang terbesar itu saja adalah hotel paling tidak nyaman yang pernah saya singgahi. TV mati, AC tidak mau mati, tiap jam mati listrik, dan seterusnya.

Di balik jalan utama Malindo, ada desa-desa tempat orang-orang tinggal. Beberapa mirip kampung saya di Salatiga, namun desa lainnya harus ditempuh melalui jalan rusak dan tanpa penerangan sekira satu jam perjalanan, dan masih ada desa lainnya lagi yang hanya bisa dicapai dengan menggunakan kapal mesin. Kalau kemarau, kapal itu yang naik manusia. Jika di jalur utama lampu-lampu bersinar terang–meski tak seterang Jalan Kaliurang–maka di kampung-kampung itu mereka mengandalkan lampu energi matahari yang nyalanya seperti lampu tidur di kamar. Redup. Beberapa keluarga yang lebih kaya akan membeli genset dan bisa menyalakan televisi.

Kondisi tersebut kontras dengan kondisi di Malaysia. Saat pagi hari saya punya kesempatan untuk melintas ke negeri jiran untuk sarapan. Perbedaan Indonesia dan Malaysia sungguh mencolok. Dari jalan saja sudah jelas, jalanan di Malaysia sepertinya lebih halus dari jalanan terhalus di Yogyakarta. Penataan wilayahnya juga lebih teratur . Orang-orang Entikong biasa belanja di negara sebelah karena lebih murah. Jargon populer di sana adalah “Garuda di Dadaku, Malaysia di Perutku”–ini juga berlaku di Nunukan dan mungkin perbatasan Malaysia lainnya.

Menurut cerita orang lokal, di sana ada sebuah bukit yang dimiliki oleh Indonesia dan Malaysia. Sebelah utara, milik Malaysia, di atas bukit tersebut dibangun resort dengan pemandangan hijaunya Indonesia. Sebelah selatan, milik Indonesia, tinggallah warga di desa-desa dengan penerangan yang sangat minim atau bahkan tak ada. Saya lalu membayangkan orang-orang yang tinggal di resort-resort tersebut melihat Indonesia dengan lampu kelip-kelip itu seperti kunang-kunang -_-“.

Konon para pejabat pusat yang ke Entikong tidak melalui jalur Pontianak, tapi lewat Kuching, Malaysia yang hanya butuh dua jam perjalanan saja. Menginapnya pun di sana. Tapi ini cerita saya di tahun 2014, saat pos perbatasan Indonesia masih kusam. Kini, menurut vlog dek Kaesang, pos perbatasan Entikong sudah mewah. Entah dengan Hotel Bintang dan nasib desa-desa di balik jalur Malindo itu.

Advertisements

Animisme

Jika animisme diperbolehkan di Indonesia, maka aku ingin jadi penganutnya saja. Aku yakin, penganut animisme bukan menyembah pohon atau gunung. Aku yakin mereka menyembah kekuatan di balik alam semesta. Mungkin Tuhan dalam bahasa kita sekarang.

Kalau agama sekarang ini tidak ada, mungkin di atas Gereja St. Antonius Kotabaru itu masih berupa kebun tebu; bisa jadi di atas Masjid Syuhada itu adalah ladang jagung; dan di atas Gereja Kristen HKBP itu masih ada tanaman karet. Siapa tahu? Tapi mungkin juga ketiga tempat itu malah jadi pusat perbelanjaan yang sangat besar. Siapa tahu? Kalau begitu, mending animisme atau beragama saja?

Denpasar

Denpasar memang tak seterkenal Bali. Padahal ibukota Provinsi Bali ini adalah yang bakal pertama dikunjungi ketika pergi ke Bali. Bahkan, seringkali orang ke Bali ya ke Denpasar, bukan Singaraja atau Klungkung.

Tiga kali ke Denpasar tak membuat saya punya kesan yang cukup tentang kota ini. Kunjungan pertama dan kedua adalah bagian dari piknik sekolah, SMP dan SMA. Sementara kunjungan terakhir adalah singgah sementara sebelum lanjut kerja ke Bali utara, Singaraja. Dari ketiga kunjungan tersebut, saya tak benar-benar tahu ada apa saja di Denpasar. Paling cuma hotel, bandara, dan pusat oleh-oleh saja yang saya tahu. Oh, ditambah pantai Kuta!

Dari memori saya yang sedikit tentang Denpasar, yang paling saya ingat adalah jalannya yang sempit dan macet. Rasanya Denpasar mirip dengan Jogja. Penuh sekali. Pada kunjungan terakhir saya malah lebih parah. Macet di mana-mana. Sepertinya ada jalan-jalan baru yang lebih luas di sekitar pantai Kuta, tapi saya hanya melewatinya sekali.

Tentu saja selain macet, yang paling jelas adalah sajen di mana-mana, juga wisatawan. Tapi saya tak bisa banyak bercerita tentang keduanya karena ingatan saya pendek dan kunjungan terakhir itu hanya lewat seperti pojokan monopoli. Saya hanya nunut beli oleh-oleh dan menuju bandara.

Piknik SMP dan SMA lebih banyak dihabiskan ke kota-kota lain di Bali karena banyak juga tempat wisata terkenal yang letaknya bukan di Denpasar. Kalau saya cerita tentang tempat-tempat wisata itu, palingan kalah menarik daripada banyak cerita di blog atau laman lain. Saya tak ingat mana saja yang telah saya kunjungi selain Pantai Kuta, Pantai Sanur, Taman Ayun, Sangeh, Besakih, dan Kintamani. Saya hanya ingat saat piknik SMA itu, saya merokok untuk pertama dan terakhir kalinya di kamar hotel, di Denpasar, bersama cewek-cewek geng AADC ala-ala.

Semoga tahun ini punya kesempatan ke Denpasar lagi.

Katarsis

Aku tak percaya pada akhir pekan. Ia malah membuat tanganku makin hitam. Antrean di tiap-tiap perempatan makin panjang. Konon, akhir pekan adalah waktu untuk istirahat, bukan malah jalan-jalan ke luar kota. Itu hanya akan membuatmu lelah di minggu berikutnya. Tapi semua orang telah terlalu memuja akhir pekan.

Seperti telah kukatakan tadi, aku tak percaya pada akhir pekan. Apalagi akhir pekan panjang. Warung-warung makan makin penuh, menyisakan aa’-aa’ burjo yang ngelangut menunggu orang-orang malas sepertiku.

Tapi akhir pekan telah telanjur jadi moment untuk mengonsumsi setelah lima hari sebelumnya terus berproduksi. Perkara produksi apa, entahlah. Aku katakan aku tak percaya pada akhir pekan. Tapi itu hanya di jempolku. Tubuh dan otakku malah lebih percaya pada akhir pekan: mengonsumsi kemalasan.

Cirebon

Kota Cirebon adalah salah satu kota penting di Jawa Barat, selain Bandung dan Bogor. Ia adalah kota perlintasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kota ini juga populer, terutama bagi mereka yang kerap naik kereta dari dan ke Jakarta. Cirebon menjadi salah satu kota wajib singgah bagi seluruh kereta tujuan Jakarta.

Penduduk Cirebon memiliki identitas yang berbeda daripada penduduk Jawa Barat pada umumnya. Ini terlihat jelas dari bahasa yang mereka gunakan. Saat pertama kali ke Cirebon sekitar tahun 2011, saya takjub karena tak mendapati orang bicara bahasa Sunda. Padahal saya naik angkot tiap hari untuk keliling-keliling. Mereka justru kebanyakan memakai bahasa Indonesia. Orang Cirebon kota memang bukan orang Sunda. Beda dengan orang kabupaten sekitar, Kuningan misalnya, yang adalah orang-orang Sunda. Tak heran banyak pula orang Cirebon yang bisa bahasa Jawa. Rupanya bahasa orang Cirebon campur-campur antara Sunda, Jawa, serta Ngapak Banyumasan. Ini menjadi ciri khusus Cirebon.

Ciri lainnya yang khas dari Cirebon adalah kulinernya yang menggoda iman. Bagaimana tidak, saat kamu datang ke warung Nasi Jamblang manapun, kamu akan kalap untuk mencoba semua lauk yang disediakan. Kalau tidak ingat dompet dan kolesterol, tentu masing-masing lauk yang jenisnya bisa lebih dari 20 akan saya coba semua. Oya, nasi jamblang adalah nasi putih yang dibungkus dengan daun jati. Baunya khas. Selain itu, ada juga empal gentong dan empal asem yang tak mungkin saya lewatkan sebagai pecinta kuah.

Kota Cirebon secara umum tak terlalu istimewa. Kota ini tak bersih-bersih amat. Berbagai objek wisata tak dikelola dengan baik, seperti Goa Sunyaragi dan keraton Kanoman dan Kasepuhan. Secara umum ia hampir sama dengan berbagai kota yang ada di Indonesia lainnya.

Yang jelas, bagi saya, yang istimewa dari Kota Cirebon adalah salah satu warganya. Ehehe.

Mimpi UGM

Sambil mengucek mata yang masih mengantuk, aku menerima telepon dari rektor baru UGM. Ia mengajakku ketemu di sebuah kafe kecil di kampung utara UGM. Aku segera bersiap untuk bertemu sambil tak henti menebak apa maksud ajakannya bertemu denganku, padahal aku mengenalnya pun tidak. Tentu yang dimaksud kenal adalah kenal secara personal ya. Kalau kenal nama, jelas aku mengenalnya. Bagaimanapun, aku adalah orang yang berwawasan luas. Aku tahu nama orang-orang yang kerap muncul di media maupun dalam percakapan orang-orang.

Rupanya bukan cuma aku yang diajak bertemu olehnya. Ada dua orang lagi yang tak kukenal. Di kafe kecil itu kami berkenalan. Saat rektor baru UGM mengambil menu, kami yang baru kenal ini sama-sama menautkan alis, penasaran dengan maksudnya mengundang kami. Sembari menunggu pesanan kopi susu, rektor baru menyampaikan maksudnya. Ia ingin tahu pendapat kami, orang-orang lemah ini, tentang apa yang harus dilakukan UGM ke depan. Aku tak ingin cerita pendapat dua orang lemah kenalan baruku ini. Aku lebih suka menyampaikan pendapatku saja.

Begini.

Pada tahun ajaran baru, UGM hanya menerima orang-orang pintar, bukan hanya orang-orang kaya. Jadi, tak perlu lagi ada berita tentang anak tukang becak lulus dari UGM dengan predikat cum laude. Itu biasa saja, bukan berita.

Kuliah kedokteran harus digratiskan dengan catatan lulusannya nanti harus mau praktik di seluruh pelosok Indonesia dengan bayaran maksimal Rp20.000 per pasien, bukan hanya di Sardjito atau Panti Rapih. Tentu juga tak boleh kongkalikong dengan perusahaan obat untuk dapat mobil atau liburan ke luar negeri.

Dosen-dosen teknik Arsitek, Sipil, dan Tata Kota mulai memikirkan solusi banjir, bukan hanya di perempatan MM tapi juga seluruh Indonesia. Lulusan Pertanian, Teknologi Pertanian, Perikanan, dan Peternakan nantinya bersama petani dan peternak bekerja sama membuat Indonesia berdaulat pangan. Mahasiswa MIPA juga perlu belajar Filsafat, bukan hanya agama.

Orang-orang Ekonomi mulai mengembangkan koperasi di desa-desa. Pengacara lulusan Hukum mendampingi korban-korban konflik agraria. Dan seterusnya.

Tirai-tirai ruang kuliah dibuka, lampu dimatikan. Jendela juga dibuka, AC dimatikan. Tulisan aturan berpakaian diturunkan. Bebas saja mahasiswa berpakaian. Perpustakaan buka 24 jam, seperti burjo.

Dosen-dosen cukup mengajar 2-3 mata kuliah, tapi harus terus berkarya. Para profesor lebih sering riset ketimbang jadi konsultan di sana-sini. Mahasiswa cukup kuliah 4 subjek per semester, tapi harus baca 5 buku dan/atau 20 jurnal per mata kuliah.

Lima atau sepuluh tahun lagi, lulusan UGM tidak mencari kerja, tapi membuat karya atau bekerja bersama warga. Roda kapitalisme yang digerakkan oleh para lulusan UGM mandek. Koperasi berkembang. Petani maju. Orang sakit tak takut berobat.

Rektor baru manggut-manggut mendengar pendapatku. Sambil menyesap kopinya yang mulai dingin, ia berkata, “Kamu pikir UGM lembaga sosial? Pendidikan itu industri, Sis. In-dus-tri!”

Batam

Tahun lalu, selain ke Atambua, saya juga sempat ke Batam, daerah perbatasan yang lain. Dibandingkan dengan Atambua, Entikong, serta perbatasan lainnya, Batam jelas kota yang paling maju. Batam berbatasan dengan Singapura dan hanya dipisahkan oleh laut pendek. Meski ia paling maju di antara daerah perbatasan lainnya, ia kalah jauh dari Singapura. Negeri tetangga itu ibarat lampu yang terang benderang, sementara Batam adalah lampu yang redup, meski bukan kelip-kelip. Tujuh watt lah.

Perkenalan saya dengan Batam sebenarnya dimulai jauh sebelum akhir 2016 lalu. Sewaktu saya SD, kakak sepupu saya bekerja di Batam. Saat itu Batam adalah wilayah perindustrian baru. Selain kakak sepupu, beberapa tetangga perempuan yang tak mampu lanjut kuliah memilih merantau ke Batam, menjadi buruh pabrik yang menjanjikan. Sementara para pemuda memilih main gaplek di rumah sambil mabuk tiap malam. Dalam bayangan saya waktu itu, Batam adalah kota yang maju dan gemerlap, bukan seperti Salatiga yang begitu-begitu saja. Bayangan saya runtuh ketika saya sampai di Batam. Rupanya Batam adalah kota yang kusam.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel tempat saya menginap, tidak tampak penataan yang cukup menjanjikan sebagai sebuah kota yang berhadapan dengan Singapura. Tanah di pinggir jalan kering dan membuat kota ini terasa selalu berdebu. Saat hujan, genangan air gampang sekali ditemui. Pusat perbelanjaan Nagoya yang populer itu pun tampak setara dengan Progo saja.

Eman-eman sebenarnya jika Batam tak “diolah” dengan benar. Sebagai sebuah wilayah kepulauan, pantai tak menjadi destinasi wisata yang umum bagi masyarakat setempat maupun pendatang. Ini kerugian besar. Warga Batam lebih senang nyebrang ke negara tetangga. Alih-alih menjadi destinasi wisata yang bisa bersaing dengan Singapura, Batam justru mengambil ceruk yang gelap, menjadi pusat wisata esek-esek dan tempat judi. Ini sudah rahasia umum. Batam pun menghadapi persoalan khas perbatasan: perdagangan manusia dan narkoba.

Batam diselamatkan oleh┬ákuliner yang menggoda lidah, namun tidak mengganggu kantong. Seperti wilayah Sumatera lainnya, makanan di Batam juara. Para pelancong–biasanya keluarga–dari negeri jiran biasa menghabiskan malam Minggu untuk wisata kuliner di Batam. Barang-barang pun jauh lebih murah dibanding barang yang sama di Singapura. Jika wisata Batam dikelola dengan benar, mestinya para wisatawan di Singapura dari berbagai belahan dunia juga mau singgah ke Batam barang semalam. Toh untuk menyeberang hanya perlu naik kapal sekira sejam.