Gorontalo

Selain Makassar, kota di Pulau Sulawesi yang  pernah saya datangi adalah Gorontalo. Ia adalah provinsi yang relatif baru, meski sekarang sudah tak baru-baru amat. Gorontalo adalah “pecahan” dari Sulawesi Utara ketika masa pemekaran wilayah di Indonesia baru dimulai.

Ketika akan pergi ke Gorontalo, yang ada di kepala saya adalah jagung. Fadel Muhammad yang jadi gubernur pertama kali mempromosikan jagung sebagai komoditas unggulan di Gorontalo. Rupanya bayangan saya tentang jagung tak terwujud. Sepanjang perjalanan dari bandara ke wilayah kota dan ke daerah wisata tak saya temui kebun jagung. Saat saya tanya penduduk lokal tentang makanan khas, mereka malah kebingungan karena tak punya makanan khas. Padahal saya sudah menerka-nerka dalam hati bahwa makanan khas mereka adalah bakwan jagung. Setelah saya cari di internet, ternyata ada binte biluhuta! Pengalaman saya makan binte biluhuta malah di Jogja, di Momento, kafe asyik yang sudah tutup.

Kota Gorontalo relatif sepi dibanding kota provinsi lain yang sudah saya kunjungi. Apa mungkin saya datang di saat yang tidak tepat. Saat saya ke sana tahun 2013, objek wisata yang saya kunjungi pun seperti tempat pribadi. Saya diantar orang lokal main ke benteng Otanaha. Ini benteng peninggalan zaman Belanda. Benteng ini terletak di tempat yang agak tinggi. Dari benteng ini, kita bisa melihat indah dan luasnya Danau Limboto yang sangat terkenal di Gorontalo. Selain itu, kami juga sempat main ke pantai. Saya lupa nama pantainya, tapi saya masih ingat jelas kenangannya. Di pinggir pantai yang sangat indah itu kami makan pisang goreng panas dicocol sambal. Ini hal baru bagi saya. Biasanya kalau ke pantai saya makan ikan atau es degan. Baik benteng maupun pantai, keduanya sepi pengunjung.

Gorontalo memang tak seterkenal Manado untuk urusan pariwisata. Mungkin karena daerah baru sehingga belum dikelola dengan baik. Ini juga tampak dari bandaranya yang mmm.. bisa saya sebut sebagai bandara terburuk yang pernah saya kunjungi. Bandara di kota ini seperti terminal bus. Bahkan terminal Giwangan saja jauh lebih bagus. Waktu itu penerbangan dari Gorontalo hanya ada 2 dalam sehari, pukul 10.00 dan 14.00. Di dalam bandara ada beberapa warung kopi yang buka pagi sebelum pukul 10.00 untuk melayani penumpang pesawat pagi itu. Setelah pesawat lepas landas, warung-warung di bandara itu tutup dan buka lagi sekitar pukul 12.00 untuk melayani penumpang penerbangan siang. AC di bandara juga mati, padahal Gorontalo sangat panas. Namun, sepertinya bandara Gorontalo sekarang sudah jauh lebih baik.

Semoga punya kesempatan lagi ke Gorontalo.

Ambarawa

Belum ada kota berawalan F yang pernah kukunjungi. Rencana ke Fakfak tahun lalu gagal karena anggaran. Aku ingin cerita tentang Ambarawa saja. Malam ini Gereja Jago di Ambarawa dilempari molotov.

Saya yang tinggal di Salatiga dan beragama Katolik akrab sekali dengan Ambarawa. Kota ini dekat sekali dengan Salatiga. Kalau naik motor mungkin hanya butuh 30-40 menit saja. Orang Katolik Salatiga selalu menganggap Ambarawa sebagai kota spesial karena di sana ada Gua Maria Kerep. Beberapa temanku di sekolah dulu juga berasal dari Ambarawa. 

Kota ini kecil saja. Jalur utamanya dipakai sebagai perlintasan Semarang-Yogyakarta. Dulu di perlintasan itu ada pasar yang selalu ramai dan membuat jalan macet. Aku sering malas lewat jalur Bawen kalau ke sana karena mesti melewati pasar tersebut. Tapi kalau lewat jalur ini, kamu akan melewati Kelenteng yang megah. Aku lebih senang lewat Banyubiru. Selain menghindari pasar tumpah, aku juga menghindari saingan dengan bus-bus besar. 

Tiap kali menjelang tes catur wulan, kami yang beragama Katolik merasa wajib menenangkan diri dengan berdoa di Kerep pada akhir minggu sebelum tes. Itu juga jadi ajang menyenangkan karena jalan dengan gebetan. Kami biasa naik bus Esto ke Ambarawa dan turun di terminal. Kerep ada di seberang terminal tapi harus jalan kaki naik yang lumayan membuat napas habis. Di jalan masuk menuju Kerep itu ada penjual pecel yang wajib didatangi, Mbok Kami namanya.

Di atas, di Kerep, kami biasa istirahat sebelum berdoa. Istirahat sambil melihat sungai yang mengalir jauh di bawah, juga merasakan angin sepoi-sepoi yang berembus menyejukkan, membuat kami terkantuk-kantuk. Suasana di sana sungguh tenang. Sebelum kami benar-benar tidur karena lelah dan bertemu angin sejuk, kami lanjut berdoa di bawah Gua Maria. Dalam keheningan doa itu, dari jauh sayup-sayup terdengar suara azan. Syahdu. 

90-an Itu Biasa Saja

Cerita tentang kenangan tahun 90-an sedang sangat digemari beberapa tahun belakangan. Seolah-olah tahun tersebut adalah tahun paling membahagiakan. Padahal itu periode yang biasa saja, sama dengan demam 80-an di tahun-tahun awal 2000-an. Begitu saja. 

Kupikir tiap generasi punya kenangan bahagia masing-masing dan merasa bahwa generasinyalah yang paling membahagiakan, paling spektakuler. Padahal ya begitu saja. Kamu sendiri yang ada dalam kenangan itu dan bahagia karenanya. Apakah anak generasi 90-an masih bahagia mengingat saat kecilnya hanya bisa iri melihat temannya bermain tasoz karena ibunya tak punya uang untuk membelikan ciki berhadiah itu? 

Lantas tiba-tiba anak-anak muda ingin kembali ke masa itu. Ya nggakpapa juga. Asal jangan ingin kembali ke masa ‘enak zamanku to?’ Itu saja.

Entikong

Setelah melalui perjalanan panjang tujuh jam dari Pontianak, sampailah saya dan dua orang teman di Entikong. Waktu itu hari sudah gelap. Entikong dingin. Itu pertama kalinya saya pergi ke perbatasan. Entikong adalah sebuah kota kecamatan saja. Ia bagian dari Kabupaten Sanggau, Kalbar, yang letaknya tepat di selatan Malaysia. Saya dan teman-teman segera diantar ke penginapan, bukan hotel berbintang, tapi Hotel Bintang. Saya belum sempat melihat apa-apa di hari pertama karena langsung istirahat.

Esoknya saya baru punya kesempatan untuk mengeksplorasi Entikong. Sebenarnya tidak bisa dikatakan eksplorasi juga karena yang saya lakukan hanya melintas di atas jalan antarnegara Malindo, Malaysia-Indonesia. Jalan Malindo sangat kecil, saya membandingkannya hanya seperti Jalan Imogiri saja saking kecilnya dan rusaknya jalan. Di pinggir-pinggir jalan ada rumah-rumah dan warung-warung kecil milik warga.

Entikong jarang disinggahi orang, kecuali mereka yang mau melintas ke Malaysia atau Brunei namun kemalaman. Karenanya akomodasi di Entikong sungguh tak memadai. Hotel Bintang yang terbesar itu saja adalah hotel paling tidak nyaman yang pernah saya singgahi. TV mati, AC tidak mau mati, tiap jam mati listrik, dan seterusnya.

Di balik jalan utama Malindo, ada desa-desa tempat orang-orang tinggal. Beberapa mirip kampung saya di Salatiga, namun desa lainnya harus ditempuh melalui jalan rusak dan tanpa penerangan sekira satu jam perjalanan, dan masih ada desa lainnya lagi yang hanya bisa dicapai dengan menggunakan kapal mesin. Kalau kemarau, kapal itu yang naik manusia. Jika di jalur utama lampu-lampu bersinar terang–meski tak seterang Jalan Kaliurang–maka di kampung-kampung itu mereka mengandalkan lampu energi matahari yang nyalanya seperti lampu tidur di kamar. Redup. Beberapa keluarga yang lebih kaya akan membeli genset dan bisa menyalakan televisi.

Kondisi tersebut kontras dengan kondisi di Malaysia. Saat pagi hari saya punya kesempatan untuk melintas ke negeri jiran untuk sarapan. Perbedaan Indonesia dan Malaysia sungguh mencolok. Dari jalan saja sudah jelas, jalanan di Malaysia sepertinya lebih halus dari jalanan terhalus di Yogyakarta. Penataan wilayahnya juga lebih teratur . Orang-orang Entikong biasa belanja di negara sebelah karena lebih murah. Jargon populer di sana adalah “Garuda di Dadaku, Malaysia di Perutku”–ini juga berlaku di Nunukan dan mungkin perbatasan Malaysia lainnya.

Menurut cerita orang lokal, di sana ada sebuah bukit yang dimiliki oleh Indonesia dan Malaysia. Sebelah utara, milik Malaysia, di atas bukit tersebut dibangun resort dengan pemandangan hijaunya Indonesia. Sebelah selatan, milik Indonesia, tinggallah warga di desa-desa dengan penerangan yang sangat minim atau bahkan tak ada. Saya lalu membayangkan orang-orang yang tinggal di resort-resort tersebut melihat Indonesia dengan lampu kelip-kelip itu seperti kunang-kunang -_-“.

Konon para pejabat pusat yang ke Entikong tidak melalui jalur Pontianak, tapi lewat Kuching, Malaysia yang hanya butuh dua jam perjalanan saja. Menginapnya pun di sana. Tapi ini cerita saya di tahun 2014, saat pos perbatasan Indonesia masih kusam. Kini, menurut vlog dek Kaesang, pos perbatasan Entikong sudah mewah. Entah dengan Hotel Bintang dan nasib desa-desa di balik jalur Malindo itu.

Animisme

Jika animisme diperbolehkan di Indonesia, maka aku ingin jadi penganutnya saja. Aku yakin, penganut animisme bukan menyembah pohon atau gunung. Aku yakin mereka menyembah kekuatan di balik alam semesta. Mungkin Tuhan dalam bahasa kita sekarang.

Kalau agama sekarang ini tidak ada, mungkin di atas Gereja St. Antonius Kotabaru itu masih berupa kebun tebu; bisa jadi di atas Masjid Syuhada itu adalah ladang jagung; dan di atas Gereja Kristen HKBP itu masih ada tanaman karet. Siapa tahu? Tapi mungkin juga ketiga tempat itu malah jadi pusat perbelanjaan yang sangat besar. Siapa tahu? Kalau begitu, mending animisme atau beragama saja?

Denpasar

Denpasar memang tak seterkenal Bali. Padahal ibukota Provinsi Bali ini adalah yang bakal pertama dikunjungi ketika pergi ke Bali. Bahkan, seringkali orang ke Bali ya ke Denpasar, bukan Singaraja atau Klungkung.

Tiga kali ke Denpasar tak membuat saya punya kesan yang cukup tentang kota ini. Kunjungan pertama dan kedua adalah bagian dari piknik sekolah, SMP dan SMA. Sementara kunjungan terakhir adalah singgah sementara sebelum lanjut kerja ke Bali utara, Singaraja. Dari ketiga kunjungan tersebut, saya tak benar-benar tahu ada apa saja di Denpasar. Paling cuma hotel, bandara, dan pusat oleh-oleh saja yang saya tahu. Oh, ditambah pantai Kuta!

Dari memori saya yang sedikit tentang Denpasar, yang paling saya ingat adalah jalannya yang sempit dan macet. Rasanya Denpasar mirip dengan Jogja. Penuh sekali. Pada kunjungan terakhir saya malah lebih parah. Macet di mana-mana. Sepertinya ada jalan-jalan baru yang lebih luas di sekitar pantai Kuta, tapi saya hanya melewatinya sekali.

Tentu saja selain macet, yang paling jelas adalah sajen di mana-mana, juga wisatawan. Tapi saya tak bisa banyak bercerita tentang keduanya karena ingatan saya pendek dan kunjungan terakhir itu hanya lewat seperti pojokan monopoli. Saya hanya nunut beli oleh-oleh dan menuju bandara.

Piknik SMP dan SMA lebih banyak dihabiskan ke kota-kota lain di Bali karena banyak juga tempat wisata terkenal yang letaknya bukan di Denpasar. Kalau saya cerita tentang tempat-tempat wisata itu, palingan kalah menarik daripada banyak cerita di blog atau laman lain. Saya tak ingat mana saja yang telah saya kunjungi selain Pantai Kuta, Pantai Sanur, Taman Ayun, Sangeh, Besakih, dan Kintamani. Saya hanya ingat saat piknik SMA itu, saya merokok untuk pertama dan terakhir kalinya di kamar hotel, di Denpasar, bersama cewek-cewek geng AADC ala-ala.

Semoga tahun ini punya kesempatan ke Denpasar lagi.