Gorontalo II

Ini adalah kali kedua saya ke Gorontalo. Cerita tentang pengalaman pertama ke Gorontalo ada di sini. Seperti biasa, kuliner daerah adalah salah satu hal yang menjadi perhatian saya. Pada kesempatan pertama, saya bertanya pada partner lokal tentang makanan khas Gorontalo, tapi tidak ada jawaban yang meyakinkan. Pengalaman kuliner yang berbeda hanya makan pisang goreng dengan cocolan sambal di pinggir Pantai Botutonuo yang indah. Setelah pulang ke Yogyakarta, saya baru ingat kalau ada makanan khas Gorontalo bernama Binte Biluhuta. Padahal, saya pernah makan Binte Biluhuta sebelumnya di kafe Momento—yang sekarang sudah tutup—bareng pacar.

Pada hari pertama dan kedua, saya dan rombongan diajak untuk makan ikan laut. Saya sih senang saja makan ikan laut terus, tapi tetap ada rasa penasaran pada makanan lokal. Karena salah satu rombongan adalah pejabat, maka saya tak punya hak untuk request binte biluhuta. Hehe. Saya sudah pasrah tidak menjajal kuliner lokal lagi di kesempatan kedua ini.

Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Setelah menghabiskan pagi dengan bahagia karena bisa snorkeling di Pantai Botutonuo, saya dan rombongan menuju bandara untuk pulang. Dalam perjalanan itu kami mampir untuk makan siang. Tahukah kamu apa menu kami siang itu? Yup. Ikan bakar! Tapi kali ini kami makan tidak dengan nasi. Kami makan dengan milu siram.

PhotoGrid_1508667429126.jpg

Saya ingin loncat-loncat ketika sampai di depan rumah makan bertuliskan milu siram. Sampai di meja, ternyata kami sudah dipesankan makan: ikan bakar, nasi, milu siram, ca kangkung, dan entah apa lagi.

Milu, dalam bahasa Gorontalo, berarti jagung. Milu siram adalah jagung yang disiram. Dalam bahasa lokal, milu siram juga disebut dengan binte biluhuta. Nah, saya jadi bingung karena milu siram berbeda dengan binte biluhuta yang pernah saya rasakan dulu. Milu siram adalah jagung kukus (mirip grontol di Jawa) yang disiram kuah santan plus parutan kelapa. Selain jagung, di dalamnya ada terong, daun bawang, daun kemangi, dan suwiran ikan.

Milu siram yang gurih dan asin dipadu dengan ikan bakar dan sambal dabu-dabu segar adalah perpaduan yang lezat. Rupanya milu siram bisa dimakan sebagai pengganti nasi atau pelengkap nasi. Mumpung ada jagung, tentu saya pilih makan tanpa nasi. Bagi orang yang tidak terbiasa, mungkin makan milu siram dan ikan bakar akan terasa aneh karena ikan bakar biasanya dimakan dengan karbohidrat tak berkuah.

Bagi saya, rasa milu siram mirip lodeh tapi lebih sederhana. Mereka yang tak suka asin mungkin akan menganggap milu siram terlalu asin, tapi bagi saya, rasa milu siram sangat pas. Tak terasa sepiring milu siram dan seekor ikan bakar telah habis saya santap. Rasanya ingin nambah sepiring lagi, tapi kok masih ada kue lapis yang harus dicoba. Ah, semoga saya bisa makan milu siram lagi lain kali.

 

*tulisan ini pernah dimuat di http://www.kabarkuliner.com/milu-siram-dan-ikan-bakar-sajian-nikmat-khas-gorontalo/

Advertisements

Menyusuri Kenangan

Hari ini seperti mengulang saat kuliah dulu. Siang naik sepeda hingga Bunderan UGM, lalu sore jalan kaki pulang.

Rute pulang tentu beda dengan dulu. Kali ini tak melewati Karangasem-Karangwuni/Swakarya-Jakal. Arah pulang sudah beralih ke timur. Lumayan juga melewati jalanan di depan SGPC, sepi dan kendaraan jarang lewat. Dulu kalau lewat timur, sering bareng teman. Mampir makan nasi gudeg pojokan yang murah sekali. Sekarang jarang bertemu sesama pejalan kaki.

Kaki dan tubuh yang manja ini sudah tergoda untuk melihat sepotong kegembiraan di lapangan Klebengan setelah jalan sekira 15 menit.


img-20180227-wa0002.jpeg

Rasanya menggembirakan kalau ada lebih banyak ruang seperti ini.

Tak Ada Tahun Baru bagi Ibuk

Saat semalam jalanan di sekitar Tugu Jogja dan Malioboro penuh dengan manusia, rumahku sepi sekali. Hanya ada papah, ibuk, dan bulik. Anak-anaknya ibuk ada di Jogja. Yang dua menonton film pakai proyektor bersama seorang sahabat, yang satu mungkin juga menikmati malam tahun baru bersama anak-istrinya. 

Selain menikmati kembang api yang tak berhenti-berhenti dari depan rumah, ibuk hanya menonton acara tv yang membosankan. Menonton dengan terkantuk-kantuk karena lelah jualan seharian. Sudah bertahun-tahun hanya begitu agenda malam tahun barunya. 

Tak ada tahun baru bagi ibuk. Paginya ibuk tetap bangun pagi seperti biasa. Pergi ke pasar untuk jualan seperti hari-hari lainnya. Angka satu berwarna merah di kalender bukan hari libur bagi ibuk. Angka 2017 menjadi 2018 tak berarti apa-apa. Saat sekolah dulu, pergantian tahun menjadi penting karena setiap tugas dan catatan harus diberi tanggal di kanan atas. Tapi ibuk jarang mencatat dengan mencatumkan tahun. 

Saat anak paling kecil ibuk membuat resolusi untuk punya nilai kuliah baik dan punya pacar tahun ini, ibuk hanya memikirkan tagihan bulanan, utang dagangan, dan uang kuliah anak-anaknya. Begitu saja dijalani hidupnya. Tahun baru ataupun tahun tidak baru.

Selamat tahun baru! Sehat selalu!

Seandainya

Bayangkanlah seperti ini. Malam lumayan dingin–memang tidak sedingin malam-malam sebelumnya yang selalu disertai hujan deras. Gerimis tipis-tipis. Kamu begitu lelah dan lapar. Seharian kamu bekerja dan rapat, benar-benar dari pagi hingga malam sekali. Atau kamu lelah dan lapar setelah hampir lima jam berdiri di lapangan GSP karena ingin nonton Tulus. 

Dalam perjalanan pulang, kamu membayangkan sepiring nasi hangat dengan ayam penyet di atasnya. Ini bukan ayam penyet biasa. Ini adalah ayam penyet burjo Rio. 

Ayamnya bukan ayam goreng tepung besar yang dagingnya cuma sedikit seperti yang sedang marak di Yogyakarta. Daging ayamnya sangat tebal. Bikin kamu puas. Ayamnya juga sudah dibumbui sebelumnya. Entah bumbu apa, yang pasti enak sekali. Ayamnya digoreng lagi ketika kamu pesan ke penjual.

Yang penting lagi adalah sambalnya. Bayangkan saat kamu pesan cabai tiga. Ibu penjual akan memilihkanmu cabai-cabai warna jingga yang menggoda. Lalu ia letakkan di atas ulegan beserta bawang merah dan garam. Sambil bercerita tentang apa saja, ia haluskan cabai dan lainnya. Ia ambil sedikit minyak dari penggorengan untuk menambah nikmat sambalnya. 

Saat ayam sudah panas, ia angkat ayam dari wajan dan ia taruh di atas ulegan. Ia penyet sampai sedikit lumat. Setelah ia siapkan nasi hangat di piring, ayam penyet akan menghiasi atasnya. Siap kamu santap. Tambah sedikit kering tempe jika kamu mau. 

Itu adalah kenikmatan yang tiada tara.

Tentu saja jika saat kamu sampai di sana, ayam masih tersisa. Tidak seperti malam ini saat aku ke sana dan terpaksa makan nasi telor saja. 

Mana yang Lebih Menyedihkan?

Hujan deras seharian. Dingin. Lapar malam-malam. Pengen pesan makanan via go food. Lalu berpikir, kasihan driver gojeknya, hujan begini. Lalu berpikir lagi, ada driver gojek yang sudah hujan-hujan begini nunggu orderan nggak dapat-dapat karena orang-orang berpikir kasihan dia harus hujan-hujanan. 

Apakah aku harus pesan makanan lewat go food?

Perempuan-Perempuan Barista

Aktivitas sehari-hari saya adalah mengunjungi kafe untuk menghambur-hamburkan uang honor saya sebagai seorang pekerja lepas beriman tebal. Meski demikian, saya tidak berani menyatakan diri sebagai coffee addict karena saya masih lebih suka pesan milk with ginger–bilamana ada–daripada kopi-kopi nusantara. Paling mentok ya cafe latte alias kopi susu. Aktivitas perkafean saya sebatas masuk-duduk-pesan-goda-goda barista-kerja-minum-bayar-pulang sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan.

Beberapa tahun terakhir memang makin banyak kafe di Jogja, lucu-lucu pula. Instagramable kata rang-orang. Selain tempatnya yang didesain dengan apik, fenomena lainnya adalah adanya barista-barista perempuan. Dulu, kafe seperti Semesta, Ningratri, Mato, dan Manut–yang tenar sebelum ada kafe lucu-lucu–didominasi oleh barista laki-laki. Kemunculan barista perempuan menunjukkan bahwa …

Siapalah saya bergaya-gaya mau membahas barista perempuan. Lha muka mas-mas barista yang barusan saya goda saja saya sudah lupa, apalagi barista-barista perempuan yang saya temui beberapa hari yang lalu. Pankapan deh kalau saya sudah melakukan sedikit wawancara atau observasi partisipasi dengan mereka, saya tulis di sini. Ini adalah bentuk self-reflexivity saya untuk tidak membuat penghakiman pada fenomena, seperti kata Saukko (lalu dikeplak Pak Faruk: ora ngene Ndes maksude).

 

Terima kasih mau baca tulisan sampah ini.