FGD

Focused Group Discussion (FGD) merupakan suatu cara untuk mengetahui gagasan, atau pandangan, atau pengalaman sekelompok orang terhadap permasalahan-permasalahan tertentu. Cara ini biasa digunakan untuk memperoleh data dalam sebuah penelitian sosial maupun untuk melihat kapasitas orang dalam sebuah proses rekrutmen pegawai. Tulisan ini akan membahas tentang FGD sebagai sebuah metode pengumpulan data dalam sebuah penelitian sosial.

Terdapat tiga kata kunci dalam istilah FGD, yaitu:
1. Diskusi–>bukan wawancara atau obrolan
2. Kelompok–>bukan individual
3. Terfokus–>bukan bebas

FGD berarti suatu proses pengumpulan data dan informasi yang sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok. FGD dilakukan apabila pertanyaan dalam penelitian sudah sangat jelas dan spesifik. Diskusi ini dilakukan bukan untuk mencapai kesepakatan tertentu tentang suatu permasalahan. Continue reading “FGD”

Advertisements

7 Pertanyaan supaya Liburanmu Tetap Asyik

Lebaran sebentar lagi tiba. Banyak yang sudah pulang kampung, banyak yang masih di perjalanan, dan masih banyak juga yang masih di perantauan, bersiap pulang. Lebaran jadi moment yang dianggap tepat untuk bertemu dengan saudara dan teman-teman, bertukar kabar, dan bercengkerama. 

Saat seperti ini, pertanyaan “apa kabar?” saja rupanya masih kurang. Pertanyaan tentang kabar sering kali dirinci menjadi “kapan sampai?”, “sekarang tinggal di mana?”, “kuliah/kerja di mana?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih bisa kita jawab dengan enteng. Namun, rupanya orang Indonesia punya bakat jadi penyelidik. Pertanyaan dilanjutkan ke “kapan kawin?”, “kapan lulus?”, “kok gendutan?”, “kapan punya anak?”, dan sebagainya yang bikin kita malas jawab. Sampai-sampai banyak meme yang beredar di media sosial tentang hal itu. 

Nah, supaya silaturahmi lebih asyik, kenapa bukan kita duluan yang bertanya? Tentu saja pertanyaan yang kita ajukan bukan pertanyaan orang kebanyakan seperti di atas. Setelah kita bertanya apa kabar, kita bisa ajukan pertanyaan-pertanyaan asyik berikut.

  1. Kemarin nonton Mata Najwa yang edisi Gus Mus dan Pak Quraish Shihab nggak? Keren yah mereka? Aku pengen bisa rendah hati kayak mereka. 
  2. Oya, buku apa yang terakhir kamu baca? Tentang apa tuh? Sudah baca novel JK Rowling yang pakai nama samaran? Bagus banget itu. 
  3. Wah, ada perkembangan apa nih di kota kita? Kira-kira apa yang bisa kita lakukan ya supaya kota kita lebih bagus? 
  4. Eh, sudah nonton film Wonder Woman belum? Gal Gadot cantik banget ya? Wah, belum? Ya susah sih ya kalau di sini nggak ada bioskop, padahal bisa buat hiburan warga ya. Gimana caranya ya supaya bisa ada bioskop di sini? Apa bikin bioskop alternatif aja?
  5. Kamu punya blog nggak? Minta alamat blogmu dong, biar aku bisa baca-baca pikiran atau kabar kamu. Oh, nggak punya ya? Bikinlah! Lumayan lho buat nulis-nulis sampah kayak tulisan ini. Mau dibuatin?
  6. Pasar di sini ramai juga ya? Apa cuma pas lebaran aja? Harusnya pemda bisa bangun dan sosialisasikan pasar tradisional dengan baik ya supaya pasar bisa terus bertahan, nggak kalah sama swalayan atau mall.
  7. Perpustakaan daerah di sini di mana ya? Pernah ke sana belum? Bukunya bagus-bagus nggak? Ramai nggak kalau pas buka? Pengen deh main ke Perpusda. 

    Silakan pilih pertanyaan yang kamu suka dan ajukan sebelum lawan bicaramu bertanya macam-macam. Siapa tahu kamu bisa nemu ide-ide baru untuk bangun kota asalmu. Bisa juga kamu dapat referensi film atau buku baru. Asyik kan? 

    Selamat mencoba! ūüėä

    Koma Sebelum “Dan”

    Sebuah pesan singkat masuk di ponsel saya,

    “Mana yang benar, ‘aku, kamu, dan dia’ atau ‘aku, kamu dan dia’?”

    Tanda baca koma sebelum “dan” sering kali menjadi pertanyaan. Apakah perlu tanda koma sebelum “dan”? Ataukah tidak? Jawaban saya tergantung konteks. Tentu saja jika hanya dua kata yang dihubungkan dengan “dan”, maka tidak perlu koma, seperti aku dan dia atau makanan dan minuman.

    “Aku, kamu, dan dia” berbeda makna dengan “aku, kamu dan dia”. “Aku, kamu, dan dia” menunjukkan ada tiga bagian¬†di dalamnya, yaitu (1) aku, (2) kamu, dan (3) dia. Dalam “aku, kamu dan dia” hanya ada dua bagian, yaitu (1) aku dan (2) kamu dan dia. Kamu dan dia adalah satu kesatuan.

    Tanda koma sebelum “dan” bisa membedakan makna. Contoh perbedaannya¬†ada dalam dua kalimat ini.

    (1) Mattia membelikan kopi untuk Donna, Bona, dan pacarnya.

    (2) Mattia membelikan kopi untuk Donna, Bona dan pacarnya.

    Pada kalimat pertama, yang dibelikan kopi oleh Mattia adalah (1) Donna, (2) Bona, (3) pacar Mattia, sedangkan pada kalimat kedua, Mattia membeli kopi untuk (1) Donna, (2) Bona, (3) pacar Bona. Jika demikian, maka pada kalimat seperti kalimat kedua, saya lebih suka mengganti dengan “Mattia membelikan kopi untuk Donna serta Bona dan pacarnya” untuk mengurangi ambiguitasnya.

    Contoh lainnya adalah ketika dalam sebuah pemilihan kepala cabang sebuah kantor terdapat beberapa tahap seleksi, yaitu (1) seleksi berkas, (2) TPA, (3) wawancara, (4) uji kepatutan dan kelayakan. Dalam kasus tersebut, kita bisa menulis “Seleksi pemilihan kepala cabang dilakukan dalam beberapa tahap, antara lain seleksi berkas, TPA, wawancara, uji kepatutan dan kelayakan,” (tidak perlu koma sebelum “dan”) atau “Seleksi pemilihan kepala cabang dilakukan dalam beberapa tahap, antara lain seleksi berkas, TPA, wawancara, dan uji kepatutan dan kelayakan.” Namun, kalimat terakhir ini tidak nyaman dibaca.

    Secara umum, pertanyaan yang ditujukan ke saya di awal tulisan ini akan saya jawab dengan:¬†aku, kamu, dan dia. Perlu koma sebelum “dan”.

    Gorontalo

    Selain Makassar, kota di Pulau Sulawesi yang  pernah saya datangi adalah Gorontalo. Ia adalah provinsi yang relatif baru, meski sekarang sudah tak baru-baru amat. Gorontalo adalah “pecahan” dari Sulawesi Utara ketika masa pemekaran wilayah di Indonesia baru dimulai.

    Ketika akan pergi ke Gorontalo, yang ada di kepala saya adalah jagung. Fadel Muhammad yang jadi gubernur pertama kali mempromosikan jagung sebagai komoditas unggulan di Gorontalo. Rupanya bayangan saya tentang jagung tak terwujud. Sepanjang perjalanan dari bandara ke wilayah kota dan ke daerah wisata tak saya temui kebun jagung. Saat saya tanya penduduk lokal tentang makanan khas, mereka malah kebingungan karena tak punya makanan khas. Padahal saya sudah menerka-nerka dalam hati bahwa makanan khas mereka adalah bakwan jagung. Setelah saya cari di internet, ternyata ada binte biluhuta! Pengalaman saya makan binte biluhuta malah di Jogja, di Momento, kafe asyik yang sudah tutup.

    Kota Gorontalo relatif sepi dibanding kota provinsi lain yang sudah saya kunjungi. Apa mungkin saya datang di saat yang tidak tepat. Saat saya ke sana tahun 2013, objek wisata yang saya kunjungi pun seperti tempat pribadi. Saya diantar orang lokal main ke benteng Otanaha. Ini benteng peninggalan zaman Belanda. Benteng ini terletak di tempat yang agak tinggi. Dari benteng ini, kita bisa melihat indah dan luasnya Danau Limboto yang sangat terkenal di Gorontalo. Selain itu, kami juga sempat main ke pantai. Saya lupa nama pantainya, tapi saya masih ingat jelas kenangannya. Di pinggir pantai yang sangat indah itu kami makan pisang goreng panas dicocol sambal. Ini hal baru bagi saya. Biasanya kalau ke pantai saya makan ikan atau es degan. Baik benteng maupun pantai, keduanya sepi pengunjung.

    Gorontalo memang tak seterkenal Manado untuk urusan pariwisata. Mungkin karena daerah baru sehingga belum dikelola dengan baik. Ini juga tampak dari bandaranya yang mmm.. bisa saya sebut sebagai bandara terburuk yang pernah saya kunjungi. Bandara di kota ini seperti terminal bus. Bahkan terminal Giwangan saja jauh lebih bagus. Waktu itu penerbangan dari Gorontalo hanya ada 2 dalam sehari, pukul 10.00 dan 14.00. Di dalam bandara ada beberapa warung kopi yang buka pagi sebelum pukul 10.00 untuk melayani penumpang pesawat pagi itu. Setelah pesawat lepas landas, warung-warung di bandara itu tutup dan buka lagi sekitar pukul 12.00 untuk melayani penumpang penerbangan siang. AC di bandara juga mati, padahal Gorontalo sangat panas. Namun, sepertinya bandara Gorontalo sekarang sudah jauh lebih baik.

    Semoga punya kesempatan lagi ke Gorontalo.

    Ambarawa

    Belum ada kota berawalan F yang pernah kukunjungi. Rencana ke Fakfak tahun lalu gagal karena anggaran. Aku ingin cerita tentang Ambarawa saja. Malam ini Gereja Jago di Ambarawa dilempari molotov.

    Saya yang tinggal di Salatiga dan beragama Katolik akrab sekali dengan Ambarawa. Kota ini dekat sekali dengan Salatiga. Kalau naik motor mungkin hanya butuh 30-40 menit saja. Orang Katolik Salatiga selalu menganggap Ambarawa sebagai kota spesial karena di sana ada Gua Maria Kerep. Beberapa temanku di sekolah dulu juga berasal dari Ambarawa. 

    Kota ini kecil saja. Jalur utamanya dipakai sebagai perlintasan Semarang-Yogyakarta. Dulu di perlintasan itu ada pasar yang selalu ramai dan membuat jalan macet. Aku sering malas lewat jalur Bawen kalau ke sana karena mesti melewati pasar tersebut. Tapi kalau lewat jalur ini, kamu akan melewati Kelenteng yang megah. Aku lebih senang lewat Banyubiru. Selain menghindari pasar tumpah, aku juga menghindari saingan dengan bus-bus besar. 

    Tiap kali menjelang tes catur wulan, kami yang beragama Katolik merasa wajib menenangkan diri dengan berdoa di Kerep pada akhir minggu sebelum tes. Itu juga jadi ajang menyenangkan karena jalan dengan gebetan. Kami biasa naik bus Esto ke Ambarawa dan turun di terminal. Kerep ada di seberang terminal tapi harus jalan kaki naik yang lumayan membuat napas habis. Di jalan masuk menuju Kerep itu ada penjual pecel yang wajib didatangi, Mbok Kami namanya.

    Di atas, di Kerep, kami biasa istirahat sebelum berdoa. Istirahat sambil melihat sungai yang mengalir jauh di bawah, juga merasakan angin sepoi-sepoi yang berembus menyejukkan, membuat kami terkantuk-kantuk. Suasana di sana sungguh tenang. Sebelum kami benar-benar tidur karena lelah dan bertemu angin sejuk, kami lanjut berdoa di bawah Gua Maria. Dalam keheningan doa itu, dari jauh sayup-sayup terdengar suara azan. Syahdu. 

    90-an Itu Biasa Saja

    Cerita tentang kenangan tahun 90-an sedang sangat digemari beberapa tahun belakangan. Seolah-olah tahun tersebut adalah tahun paling membahagiakan. Padahal itu periode yang biasa saja, sama dengan demam 80-an di tahun-tahun awal 2000-an. Begitu saja. 

    Kupikir tiap generasi punya kenangan bahagia masing-masing dan merasa bahwa generasinyalah yang paling membahagiakan, paling spektakuler. Padahal ya begitu saja. Kamu sendiri yang ada dalam kenangan itu dan bahagia karenanya. Apakah anak generasi 90-an masih bahagia mengingat saat kecilnya hanya bisa iri melihat temannya bermain tasoz karena ibunya tak punya uang untuk membelikan ciki berhadiah itu? 

    Lantas tiba-tiba anak-anak muda ingin kembali ke masa itu. Ya nggakpapa juga. Asal jangan ingin kembali ke masa ‘enak zamanku to?’ Itu saja.